ArtikelBeritaPendidikan

Tausiah Pendidikan Menteri Abdul Mu’ti: Wariskan Nilai, Siapkan Generasi 2045

497
×

Tausiah Pendidikan Menteri Abdul Mu’ti: Wariskan Nilai, Siapkan Generasi 2045

Sebarkan artikel ini
Tausiah Pendidikan Menteri Abdul Mu’ti: Wariskan Nilai, Siapkan Generasi 2045

Temanggung, 20 Mei 2025 – Dalam rangkaian peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Temanggung, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyampaikan tausiah pendidikan yang sarat dengan refleksi, tantangan, dan arah strategis pendidikan Indonesia menuju masa depan.

Mengawali dengan ucapan terima kasih dan penghormatan kepada para tokoh daerah serta jajaran pimpinan Muhammadiyah, Menteri Mu’ti menekankan pentingnya membangun generasi yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kuat secara karakter. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pendidikan hari ini harus mampu menjawab tantangan disrupsi abad 21, yang ditandai oleh era “fuka” (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) dan “tuna” (turbulence, uncertainty, novelty, ambiguity).

Menurutnya, pendidikan yang relevan adalah pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai ujian atau ijazah, melainkan pada pembentukan keterampilan hidup, integritas, serta daya tahan mental dan spiritual. “Anak-anak kita harus dipersiapkan bukan hanya untuk lulus sekolah, tapi juga untuk hidup di masa depan yang belum pasti. Pendidikan harus membekali mereka dengan nilai-nilai utama sekaligus keterampilan progresif,” ujar Mu’ti.

Menteri juga menyoroti gejala mengkhawatirkan di kalangan generasi muda seperti meningkatnya agnostisisme dan longgarnya ikatan terhadap agama. Ia menegaskan pentingnya pewarisan nilai keagamaan, budaya, dan kebangsaan agar tidak terjadi degenerasi atau keterputusan antar generasi. “Didiklah anak-anakmu karena mereka hidup di zaman yang berbeda denganmu,” kutipnya dari salah satu hikmah pendidikan klasik.

Lebih lanjut, Mu’ti memperkenalkan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) sebagai pendekatan baru yang mendorong pemahaman, bukan sekadar hafalan. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini bukan pengganti kurikulum, melainkan penyempurnaan praktik pembelajaran.

“Guru harus berubah. Tidak cukup hanya mengajar. Guru harus membimbing, membina karakter, dan menjadi tempat anak-anak bertumbuh. Karena itu kami sederhanakan beban administratif guru, termasuk pengelolaan RPP dan jam mengajar,” jelasnya.

Dalam nuansa ringan namun reflektif, ia juga mengangkat pentingnya sinergi umat Islam, terutama antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, dalam membangun bangsa. “Muhammadiyah dan NU adalah dua sayap Garuda. Kalau dua sayap ini mengepak bersama, Garuda akan terbang tinggi,” pungkasnya, disambut tepuk tangan hadirin.

Tausiah tersebut menjadi puncak inspiratif dalam acara “Tausiah Pendidikan dan Silaturahmi Kebangsaan” yang digelar oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Temanggung. Momen ini juga meneguhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah bersama ormas Islam untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana semangat Hari Kebangkitan Nasional.

Komentar