Cerdas Beribadah: Kajian PCM Kandangan Kupas Tuntas Skala Prioritas dalam Beramal
KANDANGAN – Seratusan jamaah memadati serambi dan ruang utama Masjid Nurul Iman, Punduhan, Kandangan, pada Ahad pagi, 28 Desember 2025. Kehadiran mereka bukan sekadar rutinitas, melainkan untuk menimba ilmu dalam gelaran Kajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.
Pada kesempatan kali ini, kajian menghadirkan pembicara berkompeten, Ustadz Taufiq Aryanto, S.Ag., yang merupakan jajaran pimpinan dari Majelis Tabligh PDM Temanggung. Tema yang diangkat sangat relevan dengan dinamika umat saat ini, yakni: “Prioritas dalam Beramal, Tidak Asal Banyak Beramal.”
Esensi Fiqh Prioritas dalam Kehidupan Muslim
Dalam pemaparannya yang lugas, Ustadz Taufiq Aryanto menekankan bahwa dalam Islam, kuantitas amal memang penting, namun ketepatan dalam memilih jenis amal (skala prioritas) jauh lebih utama. Beliau menyebut istilah Fiqh al-Awlawiyyat atau Fiqh Prioritas sebagai panduan bagi setiap Muslim agar energi dan waktu yang dimiliki tidak terbuang untuk amalan yang kurang tepat sasarannya.
“Seringkali kita terjebak pada semangat yang meluap-luap untuk mengerjakan amalan sunnah, namun di saat yang sama kita melalaikan perkara yang wajib. Inilah yang disebut dengan kurangnya pemahaman prioritas,” ujar Ustadz Taufiq di hadapan jamaah yang menyimak dengan khidmat.
Kualitas di Atas Kuantitas
Tema “Tidak Asal Banyak Beramal” menjadi titik tekan utama. Ustadz Taufiq menjelaskan bahwa Allah SWT tidak hanya melihat seberapa banyak rakaat salat atau seberapa besar nominal sedekah seseorang, melainkan seberapa berkualitas amal tersebut di sisi-Nya. Kualitas ini ditentukan oleh dua hal utama: keikhlasan hati dan kesesuaian dengan tuntunan syariat.
Beliau memberikan ilustrasi sederhana mengenai seorang kepala keluarga yang begitu rajin bersedekah di luar rumah untuk mendapatkan pujian, namun justru menelantarkan nafkah dan kebutuhan pokok istri serta anak-anaknya. “Dalam kasus ini, nafkah keluarga adalah kewajiban primer (Wajib), sementara sedekah sunnah kepada pihak luar adalah sekunder. Mendahului yang sunnah dengan mengorbankan yang wajib adalah bentuk kekeliruan dalam beramal,” tambahnya.
Tiga Parameter Utama dalam Menentukan Prioritas
Untuk memudahkan jamaah mempraktikkan ilmu ini, Ustadz Taufiq membagikan tiga parameter utama dalam menyusun skala prioritas amal:
Mendahulukan yang Wajib atas yang Sunnah: Ibadah wajib adalah pondasi. Jangan sampai seorang Muslim sibuk mengejar salat sunnah tahajud hingga kelelahan, lalu akhirnya meninggalkan salat Subuh secara berjamaah atau bahkan bangun kesiangan.
Mendahulukan Kepentingan Umum atas Kepentingan Pribadi: Amal yang manfaatnya dirasakan oleh orang banyak (al-mutta’addi) memiliki nilai strategis yang lebih tinggi dibandingkan amal yang manfaatnya hanya kembali kepada diri sendiri (al-qashir). Contohnya, membantu pembangunan sarana pendidikan seringkali lebih mendesak daripada melakukan umrah sunnah berkali-kali bagi individu yang sama.
Mendahulukan yang Pokok (Ushul) atas yang Cabang (Furu’): Umat diajak untuk lebih fokus pada penguatan aqidah dan akhlak dasar daripada meributkan perbedaan-perbedaan kecil dalam tata cara ibadah yang bersifat teknis.
Antusiasme Jamaah dan Siaran Langsung
Kajian yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 07.00 WIB ini tidak hanya dihadiri oleh warga sekitar Punduhan, tetapi juga disaksikan oleh masyarakat luas melalui layanan Live Streaming yang disediakan oleh tim media Muhammadiyah Kandangan melalui kanal Suara Pemuda. Hal ini menunjukkan bahwa syiar dakwah di Kandangan telah memanfaatkan teknologi digital secara optimal.
Suasana interaktif terlihat saat memasuki sesi tanya jawab. Beberapa jamaah melontarkan pertanyaan mengenai dilema antara pekerjaan dan pengabdian di organisasi Muhammadiyah. Menanggapi hal itu, Ustadz Taufiq berpesan agar setiap kader Muhammadiyah mampu membagi porsi dengan bijak tanpa harus menelantarkan salah satunya, karena pengabdian di organisasi juga merupakan bagian dari jihad fi sabilillah.
Harapan bagi Warga Persyarikatan
Ketua PCM Kandangan dalam sambutan singkatnya menyampaikan bahwa kajian ini diharapkan mampu melahirkan profil warga Muhammadiyah yang cerdas secara intelektual dan spiritual. “Kita ingin warga kita tidak hanya semangat beribadah, tapi juga paham ilmunya. Dengan paham prioritas, kita bisa membangun masyarakat Kandangan yang lebih berdaya,” ungkapnya.
Kajian ditutup dengan doa bersama untuk kemaslahatan umat dan bangsa. Para jamaah pun meninggalkan Masjid Nurul Iman dengan membawa pemahaman baru: bahwa menjadi hamba yang dicintai Allah bukan tentang seberapa sibuk kita dalam “keramaian” amal, melainkan seberapa tepat kita memposisikan diri di hadapan perintah-Nya.












