Berita

PCPM Gemawang Gelar Pengajian Selapanan, Ustadz Lanang Mudadi Ajak Jamaah “Nguber Donyo Ojo Lali Suargo”

18
×

PCPM Gemawang Gelar Pengajian Selapanan, Ustadz Lanang Mudadi Ajak Jamaah “Nguber Donyo Ojo Lali Suargo”

Sebarkan artikel ini

PCPM Gemawang Gelar Pengajian Selapanan, Ustadz Lanang Mudadi Ajak Jamaah “Nguber Donyo Ojo Lali Suargo”

GEMAWANG — Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Gemawang kembali menyelenggarakan pengajian rutin selapanan pada Rabu, 30 September 2026. Bertempat di Masjid Al-Furqon, Desa Jambon, Kecamatan Gemawang, kegiatan ini diikuti oleh anggota PCPM Gemawang serta warga Muhammadiyah di wilayah Kecamatan Gemawang.

Pengajian selapanan merupakan agenda rutin PCPM Gemawang yang dilaksanakan setiap 35 hari sekali. Selain menjadi sarana menambah wawasan keislaman, kegiatan ini juga menjadi ruang pembinaan kader, penguatan keimanan, serta upaya mempererat silaturahmi di lingkungan keluarga besar Muhammadiyah.

Dalam kesempatan tersebut, KH. Lanang Mudadi, S.Pd.I., hadir sebagai pemateri dengan menyampaikan kajian keislaman yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis. Kajian berlangsung secara komunikatif dengan berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pesan yang disampaikan mudah dipahami dan menjadi bahan refleksi bagi para jamaah.

Melalui tema “Nguber Donyo Ojo Lali Suargo”, jamaah diajak untuk menata kembali orientasi kehidupan. Kesibukan mencari nafkah, mengejar cita-cita, dan memenuhi kebutuhan duniawi merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Namun, semua itu hendaknya tidak membuat seorang muslim melupakan tujuan akhir kehidupan, yakni meraih rida Allah SWT dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Persahabatan Sejati Dibangun atas Dasar Ketakwaan

Mengawali kajian, Ustadz Lanang Mudadi mengingatkan pentingnya membangun persahabatan dan kebersamaan atas dasar ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, hubungan yang hanya dilandasi kepentingan duniawi berpotensi berubah menjadi pertentangan di akhirat.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam QS. Az-Zukhruf ayat 67 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang saling bersahabat dapat berubah menjadi musuh satu sama lain, kecuali mereka yang menjalin persahabatan atas dasar ketakwaan.

Pesan tersebut mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah terhadap hubungan pertemanan yang selama ini dibangun. Apakah persahabatan terjalin karena saling mengingatkan dalam kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah, atau justru hanya karena kepentingan sesaat?

“ Kita berteman, kita berkumpul, apa yang menjadi dasar? Apakah karena ketakwaan atau karena yang lain?” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.

Menurutnya, pengajian dan pertemuan seperti ini perlu menjadi sarana untuk saling mengingatkan, memperkuat keimanan, serta mendorong peningkatan amal saleh. Berkumpul bukan sekadar menghadirkan diri secara fisik, melainkan juga berusaha memperoleh ilmu dan membawa pulang kebaikan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hisab dan Mizan, Amal Bukan Sekadar Banyak

Ustadz Lanang selanjutnya mengingatkan jamaah tentang adanya hisab dan mizan di akhirat. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan amalnya, sehingga seorang muslim perlu memperhatikan bukan hanya banyaknya amal, tetapi juga kualitas, keikhlasan, dan kesungguhannya.

Ia memberikan gambaran tentang seseorang yang rajin menghadiri pengajian. Kehadiran tersebut tentu menjadi hal yang baik, tetapi perlu diiringi kesungguhan dalam menyimak, memahami, dan mengamalkan ilmu yang diperoleh. Jangan sampai seseorang rutin menghadiri majelis ilmu, tetapi tidak mengalami perubahan dalam sikap maupun perilakunya.

Demikian pula dalam ibadah salat. Pelaksanaannya tidak cukup hanya menjadi rutinitas, tetapi perlu disertai usaha untuk meningkatkan kekhusyukan dan kesungguhan dalam menghadap Allah SWT.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa amal saleh perlu terus diperbaiki. Setiap kesempatan untuk beribadah dan menuntut ilmu hendaknya dimanfaatkan sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas diri, bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau memenuhi kebiasaan.

Mengubah Kegelisahan Dunia Menjadi Kegelisahan Akhirat

Salah satu pesan utama dalam kajian tersebut adalah ajakan untuk menjadikan akhirat sebagai orientasi utama kehidupan. Ustadz Lanang menjelaskan bahwa manusia kerap menghabiskan banyak waktu dan pikiran untuk memikirkan urusan dunia, mulai dari pekerjaan, penghasilan, kebutuhan keluarga, hingga berbagai persoalan kehidupan.

Namun, perhatian terhadap persiapan akhirat terkadang justru kurang mendapatkan porsi yang semestinya.

Ia menyampaikan pesan Nabi tentang pentingnya menjadikan urusan akhirat sebagai perhatian utama. Dengan orientasi tersebut, seorang muslim diharapkan tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan dunia dan senantiasa berusaha memperbaiki hubungannya dengan Allah SWT.

Kegelisahan terhadap akhirat bukan berarti meninggalkan tanggung jawab dunia. Sebaliknya, kegelisahan itu seharusnya mendorong seseorang untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki amalnya.

Jamaah diajak membiasakan diri bertanya kepada diri sendiri: apakah salat hari ini sudah lebih baik? Apakah bacaan Al-Qur’an semakin bertambah? Apakah amal saleh semakin meningkat? Apakah hubungan dengan sesama semakin baik? Dan yang tidak kalah penting, apakah kehidupan yang dijalani semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bentuk muhasabah agar setiap hari tidak berlalu begitu saja tanpa usaha untuk memperbaiki diri.

Jangan Terlalu Sibuk Mengejar Dunia hingga Melupakan Akhirat

Dalam bagian lain kajiannya, Ustadz Lanang mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Ia menggambarkan bagaimana seseorang dapat memiliki penghasilan besar, tetapi tetap mengalami kegelisahan dan kesulitan menikmati hidup.

Kisah tersebut menjadi ilustrasi bahwa harta bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan. Kenikmatan sederhana, seperti dapat beristirahat dengan tenang, merupakan karunia Allah SWT yang patut disyukuri dan tidak selalu dapat diperoleh hanya dengan kekayaan.

Ia kemudian mengaitkan pesan tersebut dengan kehidupan akhirat. Berbagai gambaran kenikmatan surga dalam hadis mengingatkan umat Islam bahwa kehidupan akhirat memiliki kebahagiaan yang jauh melampaui kenikmatan dunia, tanpa kelelahan dan kesedihan sebagaimana yang dialami manusia selama hidup di dunia.

Karena itu, dunia hendaknya dipandang sebagai tempat untuk beramal, menjalankan amanah, menebar manfaat, dan mempersiapkan bekal akhirat. Mencari rezeki, bekerja, membangun keluarga, serta berkontribusi bagi masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang muslim, selama semuanya dijalankan dengan cara yang baik dan tidak melalaikan kewajiban kepada Allah SWT.

Pesan “Nguber Donyo Ojo Lali Suargo” menjadi pengingat agar keseimbangan tersebut senantiasa dijaga: bekerja dengan sungguh-sungguh untuk kehidupan dunia, sekaligus mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

Ilmu Harus Melahirkan Perbaikan Amal

Kajian juga menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu dengan kesungguhan. Masjid tidak hanya menjadi tempat melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga memiliki peran penting sebagai ruang pembelajaran, penguatan pemahaman agama, dan pembinaan masyarakat.

Menurut Ustadz Lanang, ilmu diperlukan agar seseorang mampu menentukan prioritas dengan tepat. Pengetahuan yang luas tentang urusan dunia perlu diimbangi dengan pemahaman agama agar seseorang dapat menjalani kehidupan sesuai tuntunan Islam.

Ia memberikan contoh bahwa dalam keadaan tertentu, membantu orang yang sedang mengalami kesulitan dapat menjadi prioritas dibandingkan melaksanakan ibadah sunah. Contoh tersebut menunjukkan pentingnya memahami keadaan dan menempatkan suatu amalan sesuai dengan kebutuhan serta tuntunan agama.

Dengan demikian, ilmu tidak semestinya berhenti pada pengetahuan atau pemahaman secara lisan. Ilmu harus mendorong perubahan sikap, membentuk akhlak, menumbuhkan kepedulian, dan melahirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama.

Bagi kader Pemuda Muhammadiyah, pesan ini menjadi pengingat bahwa semangat menuntut ilmu perlu berjalan beriringan dengan kesediaan untuk mengamalkan ilmu tersebut. Dakwah tidak hanya disampaikan melalui perkataan, tetapi juga melalui keteladanan dan perbuatan sehari-hari.

Memperbanyak Teman Saleh dan Menjaga Lingkungan Pergaulan

Pada bagian akhir kajian, Ustadz Lanang mengajak jamaah untuk memperbanyak pertemanan dengan orang-orang saleh. Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, kebiasaan, dan perilaku seseorang, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam upaya mempersiapkan akhirat.

Persahabatan yang baik bukan sekadar menghadirkan teman untuk berbagi cerita atau menjalani aktivitas bersama. Lebih dari itu, persahabatan hendaknya menjadi jalan untuk saling menguatkan dalam kebaikan, mengingatkan ketika melakukan kesalahan, serta mendorong satu sama lain agar tetap istiqamah dalam menjalankan ajaran agama.

Karena itu, jamaah diingatkan agar tidak menjauh dari lingkungan pertemanan yang membawa kepada kebaikan. Sebaliknya, hubungan persaudaraan perlu dirawat agar dapat menjadi sarana untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan amal saleh.

Pesan ini selaras dengan semangat pengajian selapanan PCPM Gemawang, yang tidak hanya mempertemukan kader dan warga Muhammadiyah, tetapi juga diharapkan mampu membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan keagamaan dan kepedulian sosial.

Pengajian sebagai Sarana Muhasabah dan Penguatan Kader

Pengajian selapanan PCPM Gemawang menjadi momentum bagi para peserta untuk melakukan muhasabah, memperbaiki kualitas ibadah, memperkuat silaturahmi, serta menata kembali orientasi kehidupan agar tidak semata-mata berpusat pada kepentingan dunia.

Melalui kegiatan rutin ini, PCPM Gemawang berharap tradisi menuntut ilmu, berdakwah, bersilaturahmi, dan melakukan kaderisasi di kalangan Pemuda Muhammadiyah terus tumbuh. Pengajian diharapkan tidak berhenti pada kegiatan mendengarkan kajian, tetapi juga mendorong perubahan nyata dalam kehidupan para peserta.

Pada akhirnya, kesibukan dunia tidak seharusnya menjadi alasan untuk melupakan akhirat. Justru melalui pekerjaan, keluarga, persahabatan, dan pengabdian kepada masyarakat, setiap muslim memiliki kesempatan untuk menanam kebaikan dan memperbanyak bekal amal saleh.

Nguber donyo, ojo lali suargo. Mengejar kehidupan dunia tetap perlu, tetapi jangan sampai melupakan tujuan akhir perjalanan. Semoga pengajian selapanan ini semakin menguatkan kader Pemuda Muhammadiyah untuk tumbuh dalam keimanan, berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, dan istiqamah dalam menjalankan amal saleh.

Komentar