Berita

Kajian Tauhid: “Cukupkah Meyakini Allah Sebagai Rabb?” — Ustaz Fajar Abu Salman Tegaskan Pentingnya Tauhid yang Utuh

386
×

Kajian Tauhid: “Cukupkah Meyakini Allah Sebagai Rabb?” — Ustaz Fajar Abu Salman Tegaskan Pentingnya Tauhid yang Utuh

Sebarkan artikel ini

Kajian Tauhid: “Cukupkah Meyakini Allah Sebagai Rabb?” — Ustaz Fajar Abu Salman Tekankan Pentingnya Memahami Tauhid Secara Menyeluruh

Ngadirejo, Temanggung — Dalam rangka kegiatan Dakwah Korps Mubaligh Muhammadiyah, Mushola Al-Jihad Klurak, Ngadirejo, kembali menyelenggarakan Kajian Jum’at Ba’da Maghrib (7 November 2025). Kajian kali ini menghadirkan Ustaz Fajar Harjiyanto, atau yang akrab dikenal dengan nama Fajar Abu Salman, dengan tema “Cukupkah Meyakini Allah Sebagai Rabb?”

Kajian ini membahas tentang hakikat keimanan kepada Allah SWT, khususnya dalam memahami makna “Rabb” serta bagaimana konsep Tauhid harus diyakini secara utuh, tidak parsial.


Makna Rabb dan Tauhid Rububiyah

Dalam pemaparannya, Ustaz Fajar menjelaskan bahwa kata Rabb secara bahasa berarti Tuhan, namun dalam makna yang lebih luas mengandung sifat-sifat Allah sebagai الخالق (Al-Khaliq) — Maha Pencipta, الحفيظ (Al-Hafizh) — Maha Menjaga, dan المدبر (Al-Mudabbir) — Maha Pengatur.
Artinya, seluruh yang ada di alam semesta ini, baik kehidupan, kematian, maupun kejadian sekecil apapun — bahkan daun yang jatuh — tidak lepas dari kehendak dan ketetapan Allah SWT yang telah tertulis di Lauh al-Mahfuzh.

Namun, Ustaz Fajar menegaskan bahwa meyakini Allah sebagai Rabb saja belum cukup untuk menjadikan seseorang sebagai Muslim.
Ia mencontohkan kaum musyrik pada masa jahiliyah, yang juga mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan dan mengatur mereka. Akan tetapi, mereka tetap diperangi oleh Rasulullah SAW karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah.

Ustaz Fajar kemudian mengutip firman Allah dalam QS. Yunus: 31:

قُلۡ مَن یَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن یَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَـٰرَ وَمَن یُخۡرِجُ ٱلۡحَیَّ مِنَ ٱلۡمَیِّتِ وَیُخۡرِجُ ٱلۡمَیِّتَ مِنَ ٱلۡحَیِّ وَمَن یُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَیَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Katakanlah (Muhammad), siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?’”

Ayat tersebut, menurut beliau, membuktikan bahwa orang musyrik juga meyakini Allah sebagai Rabb, namun mereka belum mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Inilah yang disebut dengan Tauhid Rububiyah, yaitu pengakuan bahwa Allah-lah yang mencipta, menjaga, dan mengatur alam semesta.


Tiga Pembagian Tauhid

Untuk memudahkan pemahaman jamaah, Ustaz Fajar menjelaskan bahwa para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian besar yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan, yaitu:

1. Tauhid Rububiyah

Tauhid ini berasal dari kata Rabbun, yang bermakna Tuhan, Pengatur, dan Pemelihara.
Dalam kajiannya, Ustaz Fajar menjelaskan bahwa pengakuan terhadap Rububiyah Allah tidak otomatis menjadikan seseorang beriman dengan benar. Sebagai contoh, Iblis pun mengakui Allah sebagai Rabb ketika ia berkata:

أَنظِرۡنِیۤ إِلَىٰ یَوۡمِ یُبۡعَثُونَ
“Ya Allah, tangguhkanlah (umurku) hingga hari kebangkitan.”

Permintaan itu pun dikabulkan oleh Allah, menandakan bahwa Iblis meyakini Allah sebagai Pengatur umur dan kehidupan. Namun, karena kesombongannya menolak sujud kepada Nabi Adam, ia tetap kafir.
Begitu pula kaum musyrikin Mekah yang disebutkan dalam QS. Yunus: 31, mereka mengakui Rububiyah Allah, tetapi tetap menyekutukan-Nya.

2. Tauhid Uluhiyah

Tauhid ini menjelaskan tentang penghambaan dan ibadah hanya kepada Allah SWT semata.
Seorang Muslim baru dianggap benar-benar bertauhid jika ia meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.
Ustaz Fajar mengutip firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 3:

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّینُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ
“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia berkata, ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’”

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrik tidak mengingkari keberadaan Allah, namun mereka menjadikan perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya — inilah bentuk kesyirikan.

Dalam konteks ini, Ustaz Fajar juga menjelaskan tentang tawassul atau mencari perantara dalam berdoa.
Beliau mengklasifikasikan dua bentuk tawassul:

  • Tawassul yang Syirik: menjadikan pribadi orang saleh sebagai perantara doa, seperti memohon langsung kepada orang saleh yang sudah meninggal. Contohnya, ucapan: “Ya Syaikh Fulan, kabulkanlah hajat kami.” Ini termasuk syirik besar karena berdoa kepada selain Allah.

  • Tawassul yang Diperselisihkan Ulama: menggunakan kedudukan atau kemuliaan orang saleh yang telah wafat, misalnya dengan lafaz: “Ya Allah, dengan kemuliaan Syaikh Fulan, kabulkanlah hajatku.” Menurut Ustaz Fajar, hal ini masih diperdebatkan di kalangan ulama; ada yang membolehkan, ada yang menganggap bid’ah atau syirik kecil.

Meski demikian, beliau menekankan agar umat Islam tidak mudah menuduh syirik kepada orang yang berziarah kubur atau membaca Al-Qur’an di makam.
Ustaz Fajar menuturkan bahwa dalam madzhab Syafi’i, membaca Al-Qur’an di kuburan hukumnya boleh, sebagaimana pernah beliau konfirmasi kepada salah satu ulama Syafi’i, Asy-Syaikh Ahmad bin Ali Al-Maqrami dari Madinah.
Namun, beliau tetap menekankan agar umat Islam berdoa langsung kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ghofir: 60:

ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doamu.”

3. Asma’ wa Shifat

Bagian terakhir adalah meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Ustaz Fajar menegaskan bahwa umat Islam wajib meyakini Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah seperti yang Allah kabarkan, tanpa menolak, tanpa menyerupakan dengan makhluk, dan tanpa mempertanyakan kaifiyah (bagaimana bentuknya).
Beliau juga menjelaskan bahwa keyakinan terhadap 20 sifat wajib Allah yang biasa diajarkan dalam tradisi Ahlus Sunnah (seperti Wujud, Qidam, Baqo, Mukholafatu lil Hawaditsi, dan lain-lain) tidak salah, namun tidak boleh membatasi sifat Allah hanya pada 20 itu saja.


Penutup

Di akhir kajian, Ustaz Fajar Abu Salman menegaskan bahwa tauhid yang benar adalah tauhid yang menyeluruh, mencakup Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ wa Shifat. Ketiganya tidak dapat dipisahkan karena semuanya adalah milik Allah SWT semata.
Beliau mengajak jamaah untuk memperbaiki pemahaman tauhid dan berhati-hati dalam mengamalkan ajaran agama, agar terhindar dari kesyirikan, baik besar maupun kecil.

Komentar