Pentingnya Taqwa Sebagai Bekal Terbaik Kehidupan, Disampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi PCM Kandangan
KANDANGAN – Suasana sejuk Ahad pagi (9/11/2025) di Masjid Nurul Iman Punduhan, Kandangan, terasa semakin khidmat dengan hadirnya seratusan jamaah yang antusias mengikuti Pengajian Ahad Pagi. Acara yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan ini menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung, Ust. Drs. H. Asy’ari Muhadi, MA, sebagai pembicara. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi fundamental yang menggetarkan jiwa, yakni “Pentingnya Bekal Taqwa dalam Kehidupan.”
Dalam tausiahnya yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, Ustadz Asy’ari Muhadi mengajak jamaah untuk melakukan refleksi mendalam (muhasabah) mengenai tujuan utama hidup manusia. Beliau membuka dengan sebuah pertanyaan esensial: “Jika hidup ini adalah sebuah perjalanan, bekal apa yang sedang kita persiapkan?”
Perbandingan Bekal Dunia dan Bekal Akhirat
Ustadz Asy’ari memaparkan bahwa banyak manusia modern terjebak dalam perlombaan mengumpulkan bekal yang sifatnya sementara (fana). Harta benda, pangkat, jabatan, popularitas, dan bahkan ilmu pengetahuan, seringkali menjadi fokus utama yang menyita seluruh waktu dan energi.
“Tidak salah kita mencari harta atau jabatan,” tegas Ustadz Asy’ari. “Namun, menjadi kesalahan fatal jika kita mengira itu adalah bekal terbaik dan satu-satunya. Harta akan habis, jabatan akan lepas, dan keluarga yang kita cintai pun akan berpisah. Semua itu akan kita tinggalkan di dunia.”
Beliau lantas mengkontraskan bekal duniawi tersebut dengan satu bekal yang abadi dan paling bernilai di sisi Allah SWT, yaitu takwa. Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 197, “…Wa tazawwadụ, fa inna khairaz-zādit-taqwā…” (Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa).
Mengurai Makna Taqwa
Lebih jauh, Ustadz Asy’ari menjelaskan bahwa takwa bukanlah sekadar identitas atau pengakuan lisan. Taqwa, menurutnya, adalah sebuah kondisi batiniah yang terefleksi dalam tindakan nyata.
“Taqwa secara sederhana sering diartikan sebagai menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Namun, hakikatnya lebih dalam dari itu,” urainya. “Taqwa adalah buah dari keimanan yang menumbuhkan rasa khauf (takut) dan raja’ (harap) hanya kepada Allah. Ia adalah kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi kita, baik dalam keramaian maupun saat kita sendirian.”
Beliau menganalogikan orang yang bertakwa seperti seseorang yang berjalan di atas jalanan yang penuh duri. Ia akan sangat berhati-hati dalam melangkah, menjaga pakaiannya agar tidak tersangkut, dan waspada agar kakinya tidak terluka. “Begitulah orang yang bertakwa,” jelasnya, “ia sangat berhati-hati dalam ucapan, perbuatan, dan bahkan niat di dalam hati, agar tidak terjerumus dalam murka Allah.”
Taqwa sebagai Solusi Problematika Hidup (Dunia)
Ustadz Asy’ari menekankan bahwa keutamaan bekal takwa tidak hanya dirasakan di akhirat kelak. Justru, takwa adalah solusi paling efektif untuk menghadapi berbagai problematika kehidupan di dunia saat ini.
Beliau merujuk pada janji Allah yang pasti dalam Surah At-Talaq ayat 2-3. “Allah berjanji, ‘Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (makhraj).’ Ini adalah jaminan!” seru Ustadz Asy’ari.
“Ketika kita menghadapi masalah ekonomi yang sulit, rumah tangga yang pelik, atau persoalan pekerjaan yang buntu, kembalilah pada takwa. Dengan takwa, Allah akan memberikan makhraj, sebuah jalan keluar yang seringkali tidak terduga,” paparnya.
Lebih lanjut, dalam ayat berikutnya, Allah menjanjikan, “…’Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.’ Ini adalah paket lengkap. Orang yang fokus memperbaiki takwanya, Allah akan mencukupi urusan dunianya.”
Taqwa sebagai Pelita dan Benteng (Akhirat)
Puncak dari keutamaan bekal takwa, lanjut Ustadz Asy’ari, adalah nilainya sebagai penentu kemuliaan di akhirat. Beliau mengingatkan bahwa di hadapan Allah, semua status sosial, kekayaan, dan garis keturunan menjadi tidak bernilai.
“Satu-satunya parameter kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan kita,” tegasnya, seraya mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa.”
Taqwa akan menjadi furqan (pembeda) yang memberi kita kemampuan untuk membedakan mana yang hak dan yang batil di dunia yang penuh syubhat (kerancuan). Di akhirat, takwa akan menjadi cahaya yang menuntun langkah di atas jembatan shirat dan menjadi benteng yang melindungi seorang hamba dari siksa api neraka.
Menutup tausiahnya, Ustadz Asy’ari mengajak seluruh jamaah untuk tidak lelah menanam dan merawat pohon takwa dalam diri. “Taqwa tidak bisa didapat secara instan. Ia harus diupayakan melalui ibadah yang ikhlas, ilmu yang bermanfaat, muhasabah (introspeksi) yang rutin, dan kesabaran dalam ketaatan,” pungkasnya.
Pengajian yang sarat makna ini ditutup dengan sesi doa, meninggalkan kesan mendalam bagi para jamaah untuk kembali mengevaluasi bekal apa yang sesungguhnya sedang mereka siapkan untuk perjalanan pulang menuju Allah SWT.













