Berita

Perkuat Literasi Fikih Kematian, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Katekan Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah

184
×

Perkuat Literasi Fikih Kematian, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Katekan Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah

Sebarkan artikel ini

Perkuat Literasi Fikih Kematian, Aisyiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Katekan Gelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah

Temanggung – Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) dan Pimpinan Ranting Nasyiatul Aisyiyah (PRNA) Katekan menggelar Pelatihan Pemulasaraan Jenazah pada Rabu (3/11/2025) di Gedung TPQ Al I’tisham Katekan. Kegiatan ini diikuti 30 peserta yang seluruhnya merupakan pengurus PRA dan PRNA Katekan. Pelatihan menghadirkan Ustaz Suwondo sebagai pemateri utama.

Pelatihan ini bertujuan memperkuat literasi fikih kematian di kalangan Muslimah, khususnya terkait tata cara pemulasaraan jenazah sesuai syariat Islam. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pemaparan materi hingga praktik langsung dengan antusias.

Ustaz Suwondo dalam penyampaiannya menegaskan bahwa memahami tata cara pemulasaraan jenazah merupakan bentuk tanggung jawab sosial setiap Muslim.
“Kematian adalah kepastian. Setiap Muslim perlu memahami cara memuliakan jenazah agar saudaranya kembali kepada Allah dalam keadaan suci,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keterampilan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab keluarga, tetapi juga masyarakat yang mampu membantu.

Materi pelatihan meliputi tahapan mengurus jenazah mulai dari memandikan hingga mengkafani dengan benar. Peserta mencatat setiap penjelasan secara saksama dan mendapatkan kesempatan mempraktikkan langsung prosesnya. Seorang peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat membantu meningkatkan kesiapan menghadapi situasi mendesak.
“Pelatihan seperti ini penting karena kematian tidak direncanakan dan bisa terjadi kapan saja. Setidaknya kami bisa membantu ketika dibutuhkan,” ungkapnya.

Ketua panitia menuturkan bahwa kerja sama antara PRA dan PRNA Katekan menjadi wujud penguatan kapasitas kader perempuan Muhammadiyah.
“Kami ingin kader Aisyiyah dan Nasyiah mampu mengurus jenazah sesama Muslim dengan benar. Ini adalah bentuk kepedulian yang mencerminkan nilai keikhlasan dan solidaritas,” katanya.

Salah satu hal menarik dalam pelatihan ini adalah penggunaan model manusia asli sebagai objek praktik, bukan boneka manekin seperti pelatihan pada umumnya. Seorang peserta dan anak peserta bersedia menjadi model sehingga peserta dapat belajar dengan pendekatan yang lebih realistis. Melalui praktik tersebut, peserta dapat mempelajari cara memandikan, memposisikan tubuh, membalik jenazah, hingga mengkafani dengan lebih tepat dan lembut.

Menurut Ustaz Suwondo, penggunaan model manusia membantu peserta memahami kondisi nyata di lapangan.
“Ketika praktik lebih nyata, peserta akan lebih siap menghadapi kondisi sebenarnya,” jelasnya.

PRA dan PRNA Katekan berharap pelatihan ini dapat menjadi program berkelanjutan di tingkat ranting. Selain meningkatkan kompetensi kader, kegiatan ini juga mempererat semangat gotong royong dalam melayani umat. Dengan terlaksananya pelatihan ini, para kader diharapkan mampu berperan aktif dalam membantu pengurusan jenazah di lingkungan masing-masing sehingga tidak ada warga yang kesulitan ketika menghadapi musibah kematian.

Komentar