BeritaPCM

Ratusan Jemaah Padati Masjid Nurul Iman, Ustadz Asmu’i Ingatkan Empat Lapis Pengawasan Allah dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

188
×

Ratusan Jemaah Padati Masjid Nurul Iman, Ustadz Asmu’i Ingatkan Empat Lapis Pengawasan Allah dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

Sebarkan artikel ini
Ratusan Jemaah Padati Masjid Nurul Iman, Ustadz Asmu'i Ingatkan Empat Lapis Pengawasan Allah dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

Ratusan Jemaah Padati Masjid Nurul Iman, Ustadz Asmu’i Ingatkan Empat Lapis Pengawasan Allah dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

KANDANGAN – Suasana pagi di Dusun Punduhan, Kecamatan Kandangan, terasa berbeda pada Ahad (14/12/2025). Sejak pukul 05.50 WIB, ratusan jemaah yang terdiri dari warga Muhammadiyah, Aisyiyah, serta simpatisan umum mulai memadati kompleks Masjid Nurul Iman. Mereka berbondong-bondong hadir untuk mengikuti Kajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.

Kegiatan yang menjadi agenda unggulan syiar Islam di Kandangan ini kembali menghadirkan pencerahan spiritual bagi masyarakat. Tepat pukul 06.10 WIB, acara dimulai dengan suasana yang khidmat namun penuh semangat ukhuwah. Kajian kali ini menghadirkan pemateri Ustadz Asmu’i, S.Pd., sosok mubaligh yang dikenal dengan penyampaiannya yang tegas namun menyejukkan hati.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Asmu’i membawakan tema yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan modern saat ini, yakni tentang “Pengawasan-pengawasan Allah SWT Terhadap Hamba-Nya” atau dalam istilah agama sering disebut sebagai Muraqabah. Tema ini dipilih sebagai pengingat agar setiap Muslim senantiasa menjaga perilaku, lisan, dan hati di mana pun berada, karena tidak ada satu pun yang luput dari pandangan Sang Pencipta.

Empat Lapis Pengawasan

Dalam uraiannya yang memukau jemaah selama satu jam penuh, Ustadz Asmu’i membedah secara mendalam bahwa manusia hidup di dunia ini tidaklah sendirian dan bebas tanpa kontrol. Beliau menjabarkan setidaknya ada empat lapisan pengawasan yang “mengepung” manusia, sehingga mustahil bagi seorang hamba untuk berbuat maksiat tanpa tercatat.

Poin pertama yang ditekankan adalah Pengawasan Langsung dari Allah SWT (Allah Maha Mengetahui). Ustadz Asmu’i menjelaskan bahwa Allah memiliki sifat Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Alim (Maha Mengetahui). “Tidak ada sehelai daun pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya. Bahkan bisikan hati yang paling dalam, niat yang tersembunyi, semuanya terang benderang di hadapan Allah,” tegasnya. Beliau mengajak jemaah untuk menanamkan rasa takut (khauf) dan harap (raja’) hanya kepada Allah, sehingga kesadaran ini akan mencegah seseorang berbuat dosa meski dalam keadaan sunyi dan sendirian.

Poin kedua adalah Pengawasan Malaikat. Di sisi kanan dan kiri manusia, Allah telah menugaskan Malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa mencatat setiap gerak-gerik manusia. Ustaz Asmu’i mengingatkan bahwa CCTV (kamera pengawas) buatan manusia mungkin bisa rusak, buram, atau datanya dihapus, namun catatan malaikat sangat presisi dan detail. “Setiap ucapan yang keluar dari lisan kita, setiap langkah kaki kita, tercatat rapi dalam buku amal yang kelak akan kita terima di hari perhitungan,” ujarnya mengingatkan jemaah untuk memperbanyak amal saleh.

Masuk pada poin ketiga, suasana masjid menjadi semakin hening dan merenung ketika Ustadz Asmu’i membahas tentang Anggota Tubuh Menjadi Saksi. Mengutip dalil naqli, beliau menggambarkan kedahsyatan hari kiamat di mana mulut manusia akan dikunci. “Pada hari itu, bukan mulut yang pandai bersilat lidah yang berbicara, melainkan tangan yang akan berkata dan kaki yang akan menjadi saksi atas apa yang dahulu dikerjakan,” jelasnya. Poin ini menjadi tamparan keras bagi jemaah untuk menggunakan anggota tubuh hanya untuk kebaikan, bukan untuk menzalimi orang lain atau bermaksiat.

Terakhir, poin keempat yang disampaikan adalah Manusia di Sekitar Kita sebagai Saksi. Ustadz Asmu’i menekankan aspek sosial dari pengawasan. Tetangga, teman sejawat, keluarga, hingga orang asing yang berinteraksi dengan kita adalah “cctv hidup” yang akan memberikan kesaksian. Dalam Islam, kesaksian sesama mukmin, terutama saat kematian seseorang, memiliki bobot tersendiri. “Jadilah orang baik di mata manusia, karena mereka adalah saksi-saksi Allah di muka bumi. Jangan sampai tetangga kita menjadi saksi atas keburukan perangai kita,” pesannya.

Antusiasme dan Semangat Menuntut Ilmu

Kajian yang berlangsung hingga pukul 07.00 WIB ini ditutup dengan sesi doa dan penekanan kembali pada hadis yang tertera pada poster kegiatan, yakni H.R. Ibnu Majah no. 224: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” Semangat hadis ini terlihat jelas dari antusiasme jemaah yang tidak beranjak hingga acara usai.

Selain siraman rohani, kegiatan Ahad Pagi PCM Kandangan juga menjadi ajang silaturahmi antar Ortom (Organisasi Otonom) Muhammadiyah, mulai dari Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, hingga Tapak Suci dan Hizbul Wathan, yang turut menyukseskan acara. Tak lupa, panitia juga memfasilitasi kotak infak sebagai ladang amal jariyah bagi jemaah untuk mendukung dakwah persyarikatan.

Ketua PCM Kandangan dalam kesempatan terpisah menyampaikan apresiasinya atas kehadiran jemaah yang luar biasa. Ia berharap materi tentang pengawasan Allah ini dapat dibawa pulang dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, keluarga, maupun masyarakat luas. Dengan memahami bahwa kita selalu diawasi, diharapkan akan lahir pribadi-pribadi Muslim yang berintegritas, jujur, dan bertakwa.

Kajian rutin ini akan terus dilaksanakan setiap hari Ahad pagi secara bergilir atau terpusat, sebagai wujud komitmen Muhammadiyah Kandangan dalam mencerahkan umat dan menggembirakan dakwah Islam berkemajuan.

Komentar