Berita

Lapangan Gondangwinangun Jadi Saksi Tumpah Ruahnya TPQ Muhammadiyah se-Temanggung dalam KEMAIS 2025

146
×

Lapangan Gondangwinangun Jadi Saksi Tumpah Ruahnya TPQ Muhammadiyah se-Temanggung dalam KEMAIS 2025

Sebarkan artikel ini

Lapangan Gondangwinangun Jadi Saksi Tumpah Ruahnya TPQ Muhammadiyah se-Temanggung dalam KEMAIS 2025

Temanggung – Kemah Anak-Anak Islam (KEMAIS) 2025 kembali menjadi momentum besar bagi anak-anak TPQ Muhammadiyah di Kabupaten Temanggung. Diselenggarakan pada 27–29 Desember 2025, kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dua malam ini digelar di Lapangan Gondangwinangun, Ngadirejo, Temanggung, dan terselenggara di bawah naungan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM). Dengan mengusung tema “Ceria dalam Iman, Hebat dalam Akhlak,” KEMAIS 2025 menghadirkan suasana syiar Islam yang begitu hidup, ceria, dan penuh kebersamaan melalui aktivitas pendidikan dan pembentukan karakter berbasis kemah.

KEMAIS bukan sekadar rutinitas agenda tahunan. Tahun ini, kegiatan tercatat diikuti oleh total 500 peserta, seluruhnya merupakan anak-anak dari TPQ Muhammadiyah yang tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Temanggung. Besarnya angka tersebut menjadikan Lapangan Gondangwinangun benar-benar menjadi pusat tumpah ruahnya keceriaan anak-anak Islam, berbaur bersama dalam semangat ukhuwah, iman, dan akhlak. Bentangan tenda yang berjejer, sorak sorai yel-yel antarregu, dan wajah polos anak-anak yang menyimpan semangat belajar, menjadi pemandangan yang sepenuhnya menggambarkan nilai inti dari terselenggaranya kemah ini.

KEMAIS 2025 terlaksana dengan konsep perkemahan murni. Selama tiga hari dan dua malam penuh, para peserta menjalani pengalaman hidup jauh dari kenyamanan rumah, meninggalkan gadget, dan bermain ataupun belajar dengan pendekatan interaksi langsung. Suasana malam yang dingin di Lapangan Gondangwinangun menjadi saksi bagaimana para peserta belajar kemandirian sejak hari pertama. Momen seperti ini merupakan bentuk pendidikan karakter yang tidak bisa didapat hanya dari ruang kelas, melainkan melalui pengalaman nyata, interaksi, dan hubungan sosial yang tercipta melalui aktivitas bersama.

Selama penyelenggaraan, peserta mengikuti berbagai rangkaian kegiatan inti khas perkemahan islami. Rangkaian acara menjadi semakin menarik karena KEMAIS tidak hanya memusatkan kegiatan pada menginap atau berkemah, tetapi juga menyatukan berbagai lomba-lomba antar-TPQ sebagai media pembinaan potensi dan keberanian. Di antara kompetisi yang digelar yaitu lomba kreatifasi tenda yang menjadi ajang kreativitas setiap TPQ dalam menampilkan identitas mereka, lomba pidato Bahasa Jawa dan pidato Bahasa Indonesia untuk melatih retorika sekaligus mengasah public speaking islami, hingga lomba murottal yang mengembalikan suasana religius dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sebagai fondasi peradaban Islam.

Selain itu, terselenggara pula lomba adzan yang memberi ruang bagi anak-anak untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam salah satu syiar Islam yang paling mulia. Di sisi lain, lomba cerdas cermat menjadi ruang uji kompetensi pengetahuan dasar keislaman, keberanian menjawab, dan kerja sama tim antar peserta di dalam regu masing-masing. Tidak berhenti sampai di situ, lomba pembuatan konten menjadi salah satu kegiatan menarik yang bersifat kekinian. Melalui lomba ini, anak-anak dilatih untuk bersuara dalam konteks media dakwah, meski tetap dalam batas kesederhanaan yang sesuai dengan usia mereka. Adanya aktivitas ini menunjukkan bahwa pembinaan karakter anak tidak hanya menatap masa kini, tetapi juga diproyeksikan untuk mampu menyesuaikan diri dengan era digital.

Untuk menjaga unsur fisik dan pengalaman lapangan, KEMAIS 2025 juga menghadirkan outbound per TPQ, yang dipandu langsung oleh tim pemandu game. Kegiatan outbound berfungsi untuk membangun kerja sama, saling membantu, melatih keberanian, serta mengenalkan anak-anak pada konteks pembelajaran luar ruang. Dalam permainan-permainan yang diberikan, tawa riang peserta menjadi saksi bahwa pendidikan tidak selalu harus berada dalam ruang dinding dan meja, tetapi dapat tumbuh melalui aktivitas alam dan kebersamaan. Semua ini dirangkaikan pula dengan lomba yel-yel antar kafilah, di mana seluruh peserta, total 44 regu, berusaha menampilkan identitas TPQ masing-masing dengan semangat, kekompakan, dan kreasi terbaik.

KEMAIS 2025 berjalan dengan terstruktur. Selama tiga hari itu pula, AMM memastikan setiap rangkaian acara berlangsung dengan aman, tertib, dan tetap mengutamakan nilai-nilai ilmu dan akhlak. Mulai dari kedatangan peserta, pendirian tenda, pengarahan panitia, hingga agenda lomba dan outbound, semua dipastikan memberi pengalaman kaya yang membentuk mental peserta. Selain membangun kemandirian, kemah ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antar TPQ Muhammadiyah sehingga kemah bukan hanya menjadi sebuah acara sekali lewat, melainkan ruang bertemunya generasi penerus Islam dengan jati dirinya.

Tema “Ceria dalam Iman, Hebat dalam Akhlak” tidak hadir sebagai kalimat hiasan. Tema itu benar-benar menjadi napas kegiatan. Keceriaan hadir secara nyata dalam cara anak-anak berlari, tertawa, berkompetisi, dan menyapa teman-teman baru dari TPQ berbeda. Iman hadir dalam lantunan murottal, dalam adzan yang berkumandang, dan dalam pidato yang menghidupkan gagasan dakwah. Akhlak hadir dalam cara peserta bertanggung jawab, saling berbagi makanan, merapikan tenda, bergantian antri air, dan menghormati kakak pemandu maupun panitia. Semua nilai itu hadir secara alami, tumbuh dari interaksi tanpa paksaan, karena pembelajaran moral memang paling efektif jika dilatih melalui pengalaman.

Di tengah kemeriahan tersebut, KEMAIS tetap memiliki tujuan inti: membangun karakter, memperkuat pondasi keislaman, mengasah kepercayaan diri, dan mempersiapkan generasi berakhlak mulia. Dan lebih jauh lagi, KEMAIS berdiri sebagai sarana kaderisasi dini di lingkungan Muhammadiyah, menjadi ruang awal bagi lahirnya kader-kader muda yang kelak akan tumbuh bersama dakwah persyarikatan. Dengan mengumpulkan anak-anak TPQ sejak usia belia dalam satu ruang kegiatan, kaderisasi dimulai melalui pengalaman, teladan, kedisiplinan, dan kebersamaan yang terbangun secara langsung. Dari sinilah proses membangun kader bukan sekadar teori, tetapi dipupuk melalui realitas yang mereka alami sendiri.

Seluruh rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada Ahad (29/12), ketika peserta kembali ke TPQ masing-masing. Mereka meninggalkan Lapangan Gondangwinangun dengan membawa satu hal yang tidak bisa hilang begitu saja: pengalaman. Pengalaman dalam tiga hari itu — tidur bersama teman seiman, berlomba dengan semangat, berdoa dalam kesyahduan alam, bermain dan belajar bersamaan — menjadi modal kuat untuk perjalanan keislaman mereka kelak. AMM berharap kegiatan seperti KEMAIS akan terus menjadi sarana pembinaan dan kaderisasi yang konsisten serta berkembang untuk tahun-tahun berikutnya.

Komentar