Menanam Karakter di Lumpur Sawah: Keseruan Program “Orang Tua Mengajar” KB Aisyiyah Pelangi Kertosari
TEMANGGUNG – Suasana di area persawahan Desa Kertosari, Kecamatan Temanggung, mendadak riuh rendah dengan tawa polos anak-anak pagi ini, Rabu (11/2/2026). Puluhan siswa dari KB Aisyiyah Pelangi tampak antusias meninggalkan ruang kelas mereka demi sebuah petualangan berlumpur. Hari ini, sekolah tersebut menggelar kegiatan bertajuk “Orang Tua Mengajar: Asyiknya Jadi Petani Cilik” dengan tema besar Profesi Petani.
Kegiatan yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB ini bukan sekadar tamasya biasa. Ini adalah implementasi kurikulum merdeka yang dikemas apik melalui kolaborasi antara pihak sekolah dan wali murid. Yang istimewa, pengajar hari ini bukanlah guru kelas, melainkan kolaborasi lintas generasi: Bunda dan Uti Husain, yang turun langsung ke sawah untuk berbagi ilmu tentang filosofi dan praktik bertani.

Belajar dari Akar: Bukan Sekadar Menanam Padi
Mengambil lokasi di hamparan sawah hijau di sekitar lingkungan sekolah, anak-anak diajak untuk mengenal lebih dekat dari mana asal nasi yang mereka makan setiap hari. Program “Orang Tua Mengajar” ini bertujuan untuk memberikan pengalaman sensorik sekaligus edukatif bagi anak usia dini.
Bunda Husain, sebagai perwakilan wali murid, menjelaskan bahwa mengenalkan profesi petani sejak dini sangat penting untuk menumbuhkan rasa syukur dan empati.
“Kami ingin anak-anak tahu bahwa sebutir nasi itu butuh perjuangan panjang. Ada keringat petani, ada kesabaran menanti musim, dan ada kasih sayang alam di dalamnya. Dengan turun ke sawah, mereka belajar menghargai makanan,” ungkapnya di sela-sela mendampingi siswa.
Kolaborasi Hangat Bersama Bunda dan Uti Husain
Kehadiran Uti Husain (Nenek dari salah satu siswa) memberikan warna tersendiri. Dengan sabar, beliau menunjukkan cara memegang bibit padi yang benar dan bagaimana kaki-kaki kecil para siswa harus berpijak di atas lumpur yang licin. Fenomena “belajar dari ahlinya” ini menciptakan kedekatan emosional yang luar biasa antara anak, orang tua, dan lingkungan.
Anak-anak yang awalnya tampak ragu untuk menginjakkan kaki ke dalam lumpur, perlahan mulai berani setelah melihat “Uti” dengan lincah memberikan contoh. “Ayo, jangan takut kotor. Lumpur ini teman kita, tempat tanaman makan supaya tumbuh besar,” ujar Uti Husain menyemangat para siswa.

Rangkaian Kegiatan: Dari Caping hingga Tandur
Kegiatan diawali dengan pengenalan alat-alat pertanian tradisional. Para siswa diperkenalkan dengan:
Caping: Topi bambu ikonik pelindung matahari.
Cangkul: Alat untuk menggemburkan tanah.
Bibit Padi: Bagaimana tunas kecil ini nantinya akan menjadi bulir-bulir emas.
Setelah sesi teori singkat di pinggir pematang, acara inti pun dimulai. Dengan dipandu oleh para guru dan Bunda-Uti Husain, anak-anak mulai turun ke petak sawah yang telah disiapkan. Gelak tawa pecah saat beberapa siswa kehilangan keseimbangan di lumpur, namun semangat mereka tidak surut. Mereka belajar teknik tandur (tanam mundur), sebuah kearifan lokal yang mengajarkan ketelitian dan keteraturan.
Manfaat Edukasi Luar Ruangan bagi Anak Usia Dini
Kepala Sekolah KB Aisyiyah Pelangi Kertosari menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki dampak multidimensi bagi tumbuh kembang anak. Selain aspek motorik kasar saat mereka bergerak di medan yang tidak rata, aspek kognitif dan karakter juga sangat tersentuh.
“Melalui tema Profesi Petani ini, kita sedang menanamkan benih karakter. Mereka belajar tentang kemandirian, kerja keras, dan kerja sama tim. Saat mereka kotor terkena lumpur, di situlah kecerdasan kinestetik dan keberanian mereka diuji,” jelas beliau.
Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara pihak sekolah dan orang tua. Keterlibatan aktif orang tua dalam proses mengajar membuktikan bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas guru di sekolah.
Penutup yang Berkesan
Acara berakhir menjelang siang dengan sesi cuci kaki bersama di pinggir sawah. Meski baju dan wajah mereka berhias bercak lumpur, binar mata para “Petani Cilik” ini menunjukkan kepuasan yang luar biasa.
Program “Orang Tua Mengajar” di KB Aisyiyah Pelangi Kertosari hari ini membuktikan bahwa ruang kelas terbaik terkadang tidak memiliki dinding dan atap, melainkan hamparan tanah luas yang menyediakan pelajaran hidup tak terbatas. Temanggung, dengan kekayaan agrarisnya, kembali menjadi laboratorium alam yang sempurna bagi generasi penerus bangsa.












