Berita

Kajian Ramadhan PRM Bolang: Mendalami Makna Puasa dan Problematikanya.

156
×

Kajian Ramadhan PRM Bolang: Mendalami Makna Puasa dan Problematikanya.

Sebarkan artikel ini

Kajian Ramadhan PRM Bolang: Mendalami Makna Puasa dan Problematikanya.

Temanggung — Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Bolang menggelar kegiatan Kajian Ramadhan pada Kamis (19/2/2026) pukul 05.00–06.00 WIB di Masjid Baiturrahman, Dusun Bolang, Desa Klepu, Kecamatan Kranggan. Kajian menghadirkan Drs. Makmun Pitoyo, M.Pd., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung, yang menyampaikan materi seputar makna puasa, perbedaan pendekatan dalam penetapan awal Ramadhan, serta rukun puasa.

Sejak sebelum subuh, jamaah mulai memadati masjid. Suasana khusyuk terasa ketika kajian dibuka, dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Drs. KH. Makmun Pitoyo, M.Pd. Dalam pemaparannya, ia mengawali dengan menjelaskan makna puasa, baik secara bahasa maupun istilah.

“Puasa secara bahasa berarti menahan diri. Adapun menurut istilah syariat, puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah Swt.,” ujar Makmun Pitoyo dalam petikan langsung ceramahnya.

Ia menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga pengendalian diri secara menyeluruh. Menurutnya, dimensi spiritual puasa harus tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Secara tidak langsung, Makmun Pitoyo juga mengingatkan jamaah bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. Ia menilai, keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari menahan makan dan minum, tetapi juga dari kemampuan menjaga lisan, emosi, serta perbuatan yang tidak bermanfaat.

Materi berikutnya membahas usul dan furu dalam penetapan awal puasa. Makmun Pitoyo menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama terkait metode penentuan awal Ramadhan, khususnya dalam memahami konsep ru’yah (melihat hilal).

“Dalam memahami ru’yah, ada dua pendapat. Pertama, melihat hilal secara langsung dengan mata telanjang. Kedua, melihat dengan ilmu pengetahuan melalui hisab atau perhitungan astronomi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam. Perbedaan, menurutnya, tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan, tetapi dipahami sebagai dinamika ijtihad.

Makmun Pitoyo menegaskan bahwa umat Islam perlu menyikapi perbedaan dengan bijak. Dalam petikan langsung lainnya, ia menyatakan, “Perbedaan metode tidak boleh mengurangi ukhuwah. Yang utama adalah menjaga persatuan dan saling menghormati.”

Selain itu, ia menyampaikan secara tidak langsung bahwa pendekatan hisab maupun ru’yah memiliki dasar argumentasi masing-masing. Oleh karena itu, jamaah diimbau untuk memahami persoalan ini secara proporsional dan tidak mudah terprovokasi oleh perbedaan pendapat.

Pada bagian akhir kajian, Makmun Pitoyo memaparkan rukun puasa. Ia menjelaskan bahwa rukun puasa meliputi niat dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Niat, katanya, menjadi fondasi utama dalam ibadah.

“Tanpa niat, puasa tidak sah. Niat menegaskan bahwa ibadah yang kita lakukan benar-benar ditujukan karena Allah Swt.,” tuturnya.

Kegiatan ditutup tepat pukul 06.00 WIB. PRM Bolang berharap kajian dapat terus dilaksanakan untuk memperkuat pemahaman keagamaan masyarakat, khususnya selama bulan suci Ramadhan.

Komentar