BeritaPCM

Ahad Pagi PCM Kandangan: Menata Hati, Menata Kehidupan Ketika ‘Obat Datang, Penyakit Hengkang’ di Masjid Nurul Iman

153
×

Ahad Pagi PCM Kandangan: Menata Hati, Menata Kehidupan Ketika ‘Obat Datang, Penyakit Hengkang’ di Masjid Nurul Iman

Sebarkan artikel ini
Ahad Pagi PCM Kandangan: Menata Hati, Menata Kehidupan Ketika 'Obat Datang, Penyakit Hengkang' di Masjid Nurul Iman

Ahad Pagi PCM Kandangan: Menata Hati, Menata Kehidupan Ketika ‘Obat Datang, Penyakit Hengkang’ di Masjid Nurul Iman

KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana sejuk khas lereng gunung menyelimuti Dusun Punduhan, Desa Kandangan, pada Ahad Legi, 8 Februari 2026. Sejak pukul 05.30 WIB, arus jamaah dengan atribut khas Muhammadiyah tampak memadati area Masjid Nurul Iman. Mereka hadir untuk mengikuti agenda rutin yang menjadi primadona dakwah di wilayah tersebut: Kajian Routine Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.

Kajian kali ini terasa spesial dengan kehadiran Ustadz Hasan Arifin, S.Pd.I, yang menjabat sebagai Sekretaris KMM Majelis Tabligh PDM Temanggung. Di hadapan ratusan jamaah yang hadir dari berbagai kalangan usia, beliau membawakan sebuah tema yang sangat provokatif namun menyejukkan: “Obat Datang, Penyakit Hengkang”.

Hati sebagai Pusat Kendali Eksistensi Manusia

Dalam tausiyahnya, Ustadz Hasan Arifin langsung menusuk ke jantung persoalan kehidupan modern. Beliau menjelaskan bahwa istilah “penyakit” dalam tema tersebut tidak melulu merujuk pada gangguan medis fisik, melainkan penyakit maknawi yang seringkali lebih mematikan.

Sebagai landasan filosofis dan teologis, beliau mengutip sebuah hadits monumental yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (No. 52) dan Imam Muslim (No. 1599). Dengan suara yang lantang dan artikulasi yang jelas, beliau membacakan:

“Ala wa inna fil jasadi mudghatan, idza shalahat shalahal-jasadu kulluhu, wa idza fasadat fasadal-jasadu kulluhu. Ala wa hiyal-qalbu.”

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.”

“Hati bukan sekadar pompa darah dalam konteks biologis,” urai Ustadz Hasan. “Hati adalah malikul a’dha atau rajanya anggota tubuh. Jika rajanya bijak, maka rakyatnya (tangan, mata, kaki, dan lisan) akan patuh pada kebenaran. Namun jika rajanya zalim atau sakit, maka seluruh perilaku fisik manusia akan ikut menyimpang.”

Mengenali ‘Penyakit’ yang Harus Diusir

Lebih lanjut, Ustadz Hasan membedah apa saja penyakit yang seringkali bersarang di hati manusia dan membuat hidup terasa sempit. Penyakit-penyakit tersebut meliputi hasad (dengki), riyā’ (pamer), takabbur (sombong), hingga keraguan terhadap janji-janji Allah (syubhat).

Menurut beliau, perilaku maksiat yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi bintik hitam yang menutupi cahaya hati. Ketika hati tertutup, seseorang akan sulit menerima kebenaran dan selalu merasa tidak puas dengan kehidupan. Inilah kondisi di mana “penyakit” menguasai diri, mengakibatkan depresi spiritual dan kerusakan moral.

‘Obat’ Itu Adalah Iman dan Keikhlasan

Lalu, apa “Obat” yang dimaksud agar penyakit tersebut hengkang? Ustadz Hasan menekankan tiga ramuan utama:

  1. Menjaga Keikhlasan: Melakukan segala sesuatu hanya demi meraih ridha Allah, bukan pujian manusia. Keikhlasan adalah pembersih (detoks) paling ampuh bagi hati yang kotor.

  2. Membentengi Diri dari Syubhat: Berhati-hati dalam urusan agama dan dunia, serta tidak mudah terombang-ambing oleh pemikiran yang tidak jelas dasarnya.

  3. Dzikir dan Interaksi dengan Al-Qur’an: Menjadikan Al-Qur’an sebagai syifa (penawar).

“Saat kita menghadirkan ‘obat’ berupa dzikrullah dan ketaatan, maka secara otomatis penyakit hati itu akan hengkang. Tidak ada ruang bagi gelap saat cahaya masuk. Begitu pula hati manusia, ia tidak bisa menampung iman dan penyakit hati secara bersamaan dalam porsi yang sama besar,” tegasnya.

Antusiasme Jamaah dan Harapan Masa Depan

Kajian yang berlangsung tepat satu jam, dari pukul 06.00 hingga 07.00 WIB ini, diikuti dengan khidmat. Di barisan depan, tampak para pemuda yang tergabung dalam “Suara Pemuda” dan Pemuda Muhammadiyah Kandangan menyimak dengan saksama. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah di Kandangan berhasil menyentuh lapisan regenerasi.

Ketua PCM Kandangan dalam sambutan singkatnya menyatakan bahwa kajian Ahad Pagi bukan sekadar rutinitas formalitas, melainkan ajang “recharging” iman bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat umum di Kandangan.

Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan umat Islam, khususnya dukungan moral bagi rakyat Palestina yang selaras dengan pesan syal yang dikenakan oleh Ustadz Hasan Arifin saat memberikan kajian. Jamaah kemudian membubarkan diri dengan membawa bekal spiritual yang segar, siap menghadapi aktivitas sepekan ke depan dengan hati yang lebih sehat.

Dengan berakhirnya kajian ini, pesan utamanya jelas: perbaikilah hatimu, maka Allah akan memperbaiki seluruh urusan hidupmu. Karena sesungguhnya, kesehatan fisik yang paripurna bermula dari jiwa yang tenang dan hati yang bersih dari noda-noda kemaksiatan.

Komentar