Di Hadapan Pemuda, Ayahanda Asmu’i, S.Pd. Kupas Makna Hakiki “Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah” pada Pos Ronda #8 PCPM Kandangan
KANDANGAN – Gelaran “Pos Ronda #8” yang diinisiasi oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Kandangan pada Sabtu malam, 24 Januari 2026, menjadi lebih dari sekadar ajang konsolidasi organisasi. Acara yang bertempat di kediaman Saudara Slamet di Branti ini berubah menjadi majelis ilmu yang mencerahkan dengan kehadiran perwakilan sesepuh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan, Ayahanda Bapak Asmu’i, S.Pd.
Dalam suasana hangat berteman kopi dan kudapan lesehan, Bapak Asmu’i memberikan wejangan mendalam yang menjadi fondasi teologis bagi gerakan pemuda setempat. Beliau membawakan materi bertajuk “Apa Pengertian Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang Semestinya?”. Tema ini sengaja diangkat untuk meluruskan pemahaman sekaligus memperkuat basis ideologi kader muda Muhammadiyah Kandangan dalam menghadapi tantangan zaman, khususnya menjelang bulan suci Ramadan 1447 H.
Meluruskan Makna Jargon “Kembali ke Al-Qur’an”
Dalam paparan utamanya, Bapak Asmu’i, S.Pd. mengajak seluruh hadirin, baik dari PCPM maupun perwakilan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) yang turut hadir, untuk berpikir kritis. Beliau menyoroti bahwa slogan “Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah” seringkali didengungkan, namun kerap disalahartikan menjadi sikap yang kaku, tekstualis, dan anti-kemajuan.
“Seringkali kita mendengar seruan kembali ke Al-Qur’an, tapi dimaknai seolah-olah kita harus hidup mundur ke masa lalu, menolak modernitas, dan hanya melihat teks tanpa melihat konteks,” ujar Bapak Asmu’i dengan nada tenang namun tegas.
Beliau menjelaskan bahwa pengertian semestinya dari kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah bagi warga Muhammadiyah adalah memahami spirit dan nilai-nilai universal yang terkandung di dalamnya, lalu membumikannya dalam kehidupan kekinian. Menurutnya, Al-Qur’an harus dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk menjawab problem kemanusiaan modern, bukan sekadar bacaan ritual semata.
“Kembali kepada Sunnah itu bukan hanya soal memanjangkan jenggot atau memakai celana cingkrang, meskipun itu hak individu. Namun, sunnah terbesar Nabi adalah membangun peradaban, menebar akhlak mulia, bersikap jujur, disiplin, dan menjadi rahmat bagi semesta alam. Itulah esensi yang harus dipegang oleh Pemuda Muhammadiyah Kandangan,” tegasnya.
Penjelasan ini memberikan perspektif baru bagi para peserta. Bapak Asmu’i menekankan pentingnya menggunakan akal pikiran (burhani) beriringan dengan teks wahyu (bayani) dan kebersihan hati (irfani). Hal ini sejalan dengan Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang tidak memisahkan antara kesalehan ritual dan kesalehan sosial.
Fondasi Menuju Ramadan yang Berkemajuan
Materi yang disampaikan oleh Ayahanda Asmu’i ini menjadi pengantar yang sangat relevan sebelum memasuki sesi diskusi teknis persiapan Ramadan. Beliau mengingatkan bahwa segala program kerja yang akan disusun oleh PCPM dan PCNA untuk bulan puasa nanti harus berlandaskan pada pemahaman agama yang wasathiyah (tengahan) dan berkemajuan.
“Jika kalian nanti menyusun jadwal imam, carilah yang bacaannya fasih namun juga paham fikih toleransi. Jika membuat acara sahur on the road atau bakti sosial, niatkan sebagai implementasi dari surat Al-Ma’un. Itulah wujud nyata kembali kepada Al-Qur’an,” pesan beliau.
Kehadiran beliau sebagai representasi PCM Kandangan memberikan legitimasi moral yang kuat. Pesan yang disampaikan menyiratkan bahwa orang tua di persyarikatan sangat mendukung kreativitas anak muda, selama kreativitas tersebut tidak melenceng dari koridor syariat dan kepribadian Muhammadiyah.
Antusiasme Peserta dan Sinergi Ortom
Suasana diskusi pasca ceramah berlangsung hidup. Para pemuda yang duduk melingkar di atas karpet tampak antusias menanggapi uraian tersebut. Beberapa anggota PCPM mengajukan pertanyaan mengenai tantangan dakwah digital dan bagaimana menyikapi perbedaan pendapat fikih di masyarakat—sebuah fenomena yang kerap muncul saat Ramadan tiba.
Ketua PCPM Kandangan menyampaikan rasa terima kasihnya atas pencerahan yang diberikan. “Kehadiran Ayahanda Asmu’i malam ini seperti charging energi bagi kami. Pemahaman yang beliau berikan membuat kami semakin yakin untuk merancang program Ramadan yang tidak hanya meriah, tapi juga memiliki bobot edukasi keislaman yang benar,” ungkapnya.
Hal senada dirasakan oleh perwakilan PCNA. Mereka merasa materi tersebut menguatkan peran perempuan muda Muhammadiyah untuk tidak ragu mengambil peran di ruang publik, karena kembali kepada Al-Qur’an juga berarti memuliakan peran perempuan dalam dakwah.
Penutup: “Meracik” Ide untuk Umat
Acara Pos Ronda #8 ini ditutup larut malam dengan hati yang puas. Dari teras rumah Saudara Slamet yang sederhana, lahir sebuah kesepahaman besar. Bahwa “Pos Ronda” bukan sekadar tempat diskusi atau ngopi, tetapi kawah candradimuka tempat bertemunya semangat pemuda dan hikmah orang tua.
Dengan bekal ilmu dari Bapak Asmu’i, S.Pd., PCPM Kandangan kini siap melangkah menyambut Ramadan. Mereka tidak hanya siap dengan logistik dan teknis acara, tetapi juga siap dengan narasi dakwah yang mencerahkan: mengajak masyarakat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah dengan cara yang santun, cerdas, dan menggembirakan. Suksesnya acara malam itu menjadi sinyal kuat bahwa syiar Islam di Kandangan akan semakin semarak di tangan generasi mudanya.












