Gema Dakwah di Kandangan: Ust. Muhammad Solichun Kupas Tuntas Tiga Bekal Utama Menuju Ridha Allah
KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana sejuk khas pagi hari di Punduhan, Kandangan, terasa lebih khidmat pada Ahad Pahing, 25 Januari 2026. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru memadati Masjid Nurul Iman untuk mengikuti agenda rutin yang sangat dinantikan: Pengajian Rutin Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.
Acara yang dimulai tepat pukul 06.00 WIB ini menghadirkan sosok penceramah yang dikenal lugas dan inspiratif, Ust. Muhammad Solichun dari Majelis Tabligh PDM Temanggung. Dalam tausiyahnya kali ini, beliau membawakan tema yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern, yakni mengenai “Tiga Tabungan Kebaikan” yang harus dimiliki setiap Muslim sebagai bekal di dunia maupun akhirat.
Menabung untuk Keabadian
Membuka ceramahnya, Ust. Muhammad Solichun mengajak jamaah untuk merefleksikan kembali arti kekayaan yang sesungguhnya. Menurutnya, banyak orang terjebak dalam upaya menimbun harta benda yang bersifat fana, namun sering kali lalai mengisi “rekening spiritual” mereka.
“Hadirin rahimakumullah, hidup ini adalah perjalanan singkat. Jika untuk urusan dunia kita begitu giat menabung di bank, lantas sudahkah kita memiliki tabungan yang akan menjamin keselamatan kita di hadapan Allah SWT?” tanya beliau retoris yang disambut hening khusyuk para jamaah.
Beliau kemudian merincikan tiga poin utama yang menjadi inti sari materi pagi itu.
1. Tabungan Menjaga Lisan: Keselamatan dalam Setiap Ucapan
Poin pertama yang ditekankan oleh Ust. Solichun adalah pentingnya menjaga lisan. Beliau mengingatkan bahwa lisan adalah salah satu nikmat terbesar sekaligus ujian terberat bagi manusia. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW menjamin surga bagi siapa saja yang mampu menjaga apa yang ada di antara kedua rahangnya (mulut) dan kedua kakinya (kemaluan).
“Lisan yang tidak terjaga bisa menjadi api yang membakar seluruh amal kebaikan kita. Fitnah, ghibah, dan perkataan buruk adalah kebocoran besar dalam tabungan pahala kita,” tegas Ust. Solichun. Beliau mengajak jamaah untuk membiasakan diri berpikir sebelum berbicara. Jika sebuah ucapan tidak membawa manfaat atau justru menyakiti hati orang lain, maka diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia. Menjaga lisan bukan hanya tentang menghindari dosa, tetapi juga tentang bagaimana lisan tersebut senantiasa basah dengan zikir dan kata-kata yang menyejukkan.
2. Tabungan Syukur: Kunci Melimpahnya Nikmat
Selanjutnya, beliau membahas tentang bersyukur atas nikmat Allah. Syukur bukan sekadar ucapan Alhamdulillah di bibir, melainkan sebuah kesadaran mendalam bahwa setiap tarikan napas dan setiap kemudahan hidup berasal dari Sang Khaliq.
Ust. Solichun menjelaskan bahwa syukur adalah investasi yang tidak akan pernah rugi. Sesuai janji Allah dalam Al-Qur’an, barang siapa yang bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat-Nya. “Jangan hanya melihat nikmat dalam bentuk uang. Kesehatan, kesempatan untuk hadir di pengajian pagi ini, dan keluarga yang harmonis adalah tabungan nikmat yang luar biasa,” tambahnya. Dengan bersyukur, seorang Muslim akan memiliki jiwa yang tenang dan terhindar dari penyakit hati seperti iri dan dengki.
3. Tabungan Keridhaan: Orientasi Tertinggi dalam Beramal
Poin pamungkas yang disampaikan adalah mengenai semangat senantiasa mencari keridhaan Allah SWT. Ini adalah fondasi dari segala amal perbuatan. Ust. Solichun menekankan bahwa sehebat apa pun amal seseorang, jika tujuannya bukan untuk mencari ridha Allah (ikhlas), maka amal tersebut akan sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.
“Apapun profesi kita, apakah kita petani, pedagang, atau pegawai, niatkanlah semuanya untuk mencari keridhaan-Nya. Ketika ridha Allah sudah kita dapatkan, maka urusan dunia akan mengikuti dengan keberkahan,” jelas beliau dengan penuh semangat. Mencari ridha Allah berarti kita siap menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan senang hati, bukan karena terpaksa.
Antusiasme dan Harapan Jamaah
Pengajian yang berakhir pada pukul 07.00 WIB ini meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah yang hadir. Masjid Nurul Iman yang menjadi pusat kegiatan tampak penuh sesak, namun tetap tertib. Panitia dari PCM Kandangan juga menyediakan layanan live streaming melalui kanal YouTube dan media sosial “Muhammadiyah Kandangan” serta “Suara Pemuda” bagi mereka yang tidak bisa hadir secara fisik.
Di akhir sesi, Ust. Muhammad Solichun menutup dengan doa yang menyentuh hati, memohon agar warga Kandangan dan sekitarnya senantiasa diberikan kekuatan untuk istiqomah dalam mengisi tiga tabungan kebaikan tersebut.
Ketua PCM Kandangan dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi atas kehadiran jamaah dan berharap materi yang disampaikan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Pengajian ini bukan sekadar rutinitas, tapi sarana recharging iman agar kita siap menghadapi tantangan sepekan ke depan dengan tuntunan syariat,” ujarnya.
Dengan berakhirnya pengajian Ahad Pahing ini, diharapkan semangat dakwah di wilayah Kandangan terus menyala, melahirkan masyarakat yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya akan tabungan spiritual.












