BeritaPCM

Menggapai Fitrah Melalui Filosofi “Catur L” dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

96
×

Menggapai Fitrah Melalui Filosofi “Catur L” dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

Sebarkan artikel ini
Menggapai Fitrah Melalui Filosofi "Catur L" dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

Menggapai Fitrah Melalui Filosofi “Catur L” dalam Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan

KANDANGAN – Suasana sejuk menyelimuti Dusun Punduhan, Desa Kandangan, pada Minggu pagi, 5 April 2026. Sejak pukul 05.45 WIB, arus jamaah tampak mengalir menuju Masjid Nurul Iman. Mengenakan baju koko dan mukena yang rapi, warga Muhammadiyah dan simpatisan di wilayah Kecamatan Kandangan berkumpul untuk mengikuti agenda rutin yang sangat dinantikan: Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.

Kajian kali ini terasa istimewa karena dilaksanakan masih dalam nuansa bulan Syawal. Menghadirkan pembicara utama, Ustadz Hasan Arifin, S.Pd.I, yang menjabat sebagai Sekretaris KMM Majelis Tabligh PDM Temanggung, materi yang dibawakan mengupas tuntas esensi hari kemenangan melalui filosofi tradisional Jawa yang sarat makna: Lebaran, Luberan, Laburan, dan Liburan.

Memaknai Lebaran sebagai Gerbang Kemurnian

Dalam ceramahnya yang interaktif, Ustadz Hasan Arifin membuka dengan penjelasan mengenai Lebaran. Secara etimologis, Lebaran berasal dari kata “lebar” yang berarti selesai atau usai. Namun, dalam konteks spiritual, Lebaran bukan sekadar tanda berakhirnya lapar dan dahaga selama sebulan penuh di bulan Ramadan.

“Lebaran adalah simbol bahwa pintu ampunan telah terbuka lebar. Kita telah menyelesaikan ujian madrasah Ramadan, dan hari ini kita merayakan kemenangan atas hawa nafsu,” ujar Ustadz Hasan di hadapan ratusan jamaah yang memadati serambi hingga halaman masjid. Beliau menekankan bahwa Lebaran harus menjadi momentum transformasi diri dari pribadi yang penuh noda menjadi pribadi yang fitri (suci).

Luberan: Tumpahnya Pahala dan Keberkahan

Memasuki poin kedua, Ustadz Hasan membahas tentang Luberan. Kata ini merujuk pada kondisi air yang meluap dari wadahnya karena sudah penuh. Dalam terminologi ibadah, Luberan melambangkan pahala dan keberkahan yang melimpah ruah sebagai buah dari ketekunan beribadah selama Ramadan.

“Jika selama Ramadan kita disiplin shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, dan bersedekah, maka di bulan Syawal ini kita seharusnya merasakan ‘luberan’ pahala tersebut dalam bentuk karakter yang lebih baik,” jelasnya. Beliau juga mengaitkan Luberan dengan tradisi zakat fitrah dan sedekah. Luberan adalah semangat untuk berbagi kelebihan rezeki kepada mereka yang membutuhkan, sehingga kebahagiaan Idul Fitri tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu, melainkan meluap (luber) ke seluruh lapisan masyarakat.

Laburan: Memutihkan Hati, Mempercantik Silaturahmi

Poin ketiga yang disampaikan adalah Laburan. Secara harfiah, labur berarti mengecat dinding dengan cairan kapur putih agar terlihat bersih dan cerah kembali. Tradisi masyarakat desa yang mengecat rumah atau membersihkan lingkungan menjelang dan sesudah Idul Fitri disoroti oleh Ustadz Hasan sebagai simbol pembersihan batin.

“Kita melakukan laburan pada dinding rumah kita supaya tamu yang datang bersilaturahmi merasa nyaman dan disambut dengan kegembiraan. Namun, yang lebih penting adalah ‘laburan’ hati,” tegas Sekretaris KMM Majelis Tabligh tersebut. Beliau mengajak jamaah untuk memutihkan hati dengan cara saling memaafkan. Menurutnya, tidak ada gunanya rumah yang dicat putih bersih jika di dalamnya masih tersimpan noda dendam atau rasa benci antar tetangga maupun saudara.

Laburan batin inilah yang menjadi pondasi kuat dalam menjalin silaturahmi yang tulus. Dengan hati yang bersih (putih), proses saling mengunjungi (wisata batin) akan melahirkan persaudaraan yang lebih kokoh di lingkungan PCM Kandangan.

Liburan: Rehat Sejenak untuk Menguatkan Keluarga

Terakhir, Ustadz Hasan menutup materinya dengan konsep Liburan. Di tengah kesibukan rutinitas pekerjaan, Idul Fitri memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengambil jeda. Liburan dalam kacamata dakwah beliau bukan berarti berfoya-foya, melainkan waktu berkualitas (quality time) bersama keluarga.

“Liburan adalah saatnya kita kembali ke akar, yaitu keluarga. Setelah sebulan berfokus pada hubungan dengan Allah (Hablum Minallah), kini saatnya kita memperkuat hubungan dengan sesama (Hablum Minannas), dimulai dari orang-orang terdekat,” tuturnya. Beliau mengingatkan bahwa liburan bersama keluarga pasca-Lebaran adalah momen penting untuk mengisi kembali energi positif sebelum kembali beraktivitas normal.

Antusiasme Jamaah dan Harapan Masa Depan

Kajian yang berlangsung tepat satu jam, dari pukul 06.00 hingga 07.00 WIB ini, ditutup dengan doa bersama. Para jamaah tampak khusyuk menyimak setiap poin yang disampaikan. Tidak sedikit dari mereka yang mencatat poin-poin penting mengenai filosofi “Catur L” tersebut.

Ketua PCM Kandangan yang hadir dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa kegiatan Kajian Ahad Pagi ini akan terus konsisten dilaksanakan sebagai sarana pembinaan ideologi dan penguatan ukhuwah Islamiyah. Dengan dukungan media sosial seperti akun Instagram dan YouTube Muhammadiyah Kandangan serta kanal Suara Pemuda, syiar dakwah dari masjid di pelosok Temanggung ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Melalui pesan yang disampaikan Ustadz Hasan Arifin, warga Kandangan diajak untuk tidak hanya merayakan Lebaran sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadikannya sebagai batu pijakan untuk hidup yang lebih berkah (Luberan), lebih suci (Laburan), dan lebih harmonis dalam berkeluarga (Liburan). Semangat ini diharapkan terus terjaga hingga bertemu kembali dengan Ramadan di tahun-tahun mendatang.

Komentar