Menguak Rahasia 113 Tahun Kekuatan Muhammadiyah: PCM Kandangan Gelar Kajian Rutin dan Galang Dana Bencana
KANDANGAN (7/12/2025) – Sinar matahari pagi yang hangat menyapa Dusun Punduhan, Desa Tlogopucang, Kandangan, pada Ahad pagi (7/12/2025). Suasana di Masjid Nurul Iman tampak berbeda dari biasanya. Ratusan jamaah memadati area masjid hingga pelataran, mengikuti agenda rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan, yakni Kajian Rutin Ahad Pagi.
Agenda kali ini terasa istimewa. Selain menjadi wadah thalabul ilmi, kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi perjalanan panjang persyarikatan Muhammadiyah yang kini telah menapaki usia 113 tahun (1912-2025). Mengambil tema besar mengenai rahasia kekuatan jamaah, acara ini menghadirkan pembicara dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung, Ustadz Rofi’i Edufastama, S.Pd.
Dalam tausiyahnya yang berlangsung dari pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, Ustadz Rofi’i mengupas tuntas fondasi spiritual yang membuat organisasi yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan ini tetap kokoh berdiri melintasi zaman. Menurutnya, eksistensi satu abad lebih ini bukanlah kebetulan, melainkan buah dari penanaman nilai-nilai luhur yang dipegang teguh oleh para kadernya.
Jiwa Ikhlas: Kunci Utama Bermuhammadiyah
Poin pertama yang ditekankan oleh Ustadz Rofi’i sebagai rahasia utama kekuatan Muhammadiyah adalah Jiwa Ikhlas. “Tanpa keikhlasan, mustahil organisasi ini bisa bertahan hingga 113 tahun,” tegasnya di hadapan jamaah.
Beliau memaparkan bahwa ruh bermuhammadiyah adalah memberi, bukan meminta. Para pimpinan, kader, hingga simpatisan bergerak menghidupkan organisasi dengan prinsip sepi ing pamrih, rame ing gawe. Tidak ada tendensi mencari keuntungan materi atau jabatan duniawi dalam mengurus persyarikatan. Keikhlasan inilah yang menjadi “bensin” yang tak pernah habis, yang menggerakkan roda organisasi dari tingkat Ranting hingga Pusat, bahkan di masa-masa sulit sekalipun.
Muhammadiyah Sebagai Ladang Amal Bekal ke Surga
Menyambung poin keikhlasan, Ustadz Rofi’i mengajak jamaah untuk meluruskan niat. Poin kedua yang menjadi pilar kekuatan adalah menjadikan Muhammadiyah semata-mata sebagai ladang amal ibadah.
“Muhammadiyah adalah kendaraan, tujuannya adalah ridha Allah dan surga-Nya,” ujar Ustadz Rofi’i. Beliau mengingatkan bahwa segala lelah, harta yang diinfakkan, dan waktu yang diluangkan untuk mengurus umat melalui Muhammadiyah, harus diniatkan sebagai investasi akhirat.
Paradigma ini mengubah cara pandang warga persyarikatan. Ketika Muhammadiyah dianggap sebagai ladang amal, maka tidak ada istilah “pensiun” dalam berdakwah. Semangat ini terlihat jelas dari antusiasme jamaah Masjid Nurul Iman Punduhan pagi itu, yang datang dengan wajah sumringah, siap berinvestasi untuk kehidupan yang abadi.
Implementasi Ta’awun: Aksi Nyata untuk Kemanusiaan
Teori tanpa aksi adalah hal yang mustahil di Muhammadiyah. Rahasia ketiga yang dibahas adalah Jiwa Kebersamaan dalam Berta’awun (Tolong-menolong). Semangat Al-Maun yang diajarkan pendiri Muhammadiyah terus mengalir deras.
Hal ini dibuktikan secara konkret dalam acara tersebut. Sesuai dengan maklumat yang tertera pada pamflet kegiatan, kajian pagi itu dirangkaikan dengan “Penggalangan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Bencana”. PCM Kandangan menegaskan komitmennya bahwa 100% perolehan kotak infak pada hari itu akan disalurkan untuk kemanusiaan, khususnya bagi korban bencana yang sedang melanda wilayah Sumatera.
“Inilah bukti ta’awun kita. Ketika satu bagian tubuh sakit, bagian lain ikut merasakan. Saudara kita di Sumatera sedang diuji, maka warga Muhammadiyah Kandangan hadir memberikan solusi,” tambah panitia pelaksana. Semangat gotong royong inilah yang membuat Muhammadiyah selalu hadir terdepan dalam setiap respon kebencanaan di Indonesia.
Kekuatan Ukhuwah yang Mengikat Hati
Poin terakhir yang menjadi penutup kunci rahasia 113 tahun Muhammadiyah adalah Jiwa Ukhuwah yang Sangat Kuat. Ikatan persaudaraan sesama warga persyarikatan bukan sekadar hubungan organisasi, melainkan ikatan hati yang dipersatukan oleh aqidah.
Kajian Rutin Ahad Pagi ini adalah manifestasi dari ukhuwah tersebut. Bertemunya warga dari berbagai ranting, tua dan muda, dalam satu majelis ilmu, mempererat soliditas organisasi. Ustadz Rofi’i menekankan bahwa ukhuwah islamiyah adalah benteng pertahanan umat. Ketika ukhuwah kuat, maka gesekan internal bisa diredam dan potensi umat bisa disatukan untuk membangun peradaban.
Acara ditutup tepat pukul 07.00 WIB dengan doa bersama dan perhitungan perolehan infak. Wajah-wajah puas terpancar dari para jamaah yang tidak hanya mendapatkan “gizi” rohani, tetapi juga telah berkontribusi nyata bagi saudara mereka yang membutuhkan.
Melalui empat pilar kekuatan ini—Ikhlas, Orientasi Akhirat, Ta’awun, dan Ukhuwah—PCM Kandangan optimis untuk terus merawat dan membesarkan persyarikatan, menyongsong abad kedua Muhammadiyah dengan penuh harapan dan kebermanfaatan bagi semesta.












