PDM Temanggung Ikuti Bimtek Eksekutif PWM Jawa Tengah, Perkuat Kompetensi Manajemen dan Pengelolaan Stakeholder
PEKALONGAN, 29 September 2026 — Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Temanggung mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Eksekutif yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Selasa (29/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Jalan Raya Ambokembang No. 8 Pekalongan, tersebut diikuti oleh jajaran manajer dan staf eksekutif PDM dari wilayah Pekalongan Raya, Kedu Raya, dan Banyumas Raya. Bimtek dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.
Bimtek Eksekutif ini menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas bagi para pengelola eksekutif Persyarikatan. Berbagai materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan teknis pekerjaan, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan, komunikasi, pengelolaan stakeholder, hingga reputasi organisasi.
Membangun Kepercayaan melalui Konsistensi
Salah satu materi yang dibahas dalam kegiatan tersebut adalah mengenai kepercayaan (trust). Dalam materi disampaikan bahwa kepercayaan merupakan sesuatu yang dibangun melalui perilaku yang konsisten dari waktu ke waktu.
Terdapat empat elemen utama dalam membangun kepercayaan, yakni competency, communication, compassion, dan consistency.
Competency berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menjalankan peran dan memberikan kontribusi yang relevan. Sementara communication menekankan pentingnya pemberian informasi yang jelas dan tepat waktu, baik dalam kondisi yang baik maupun ketika menghadapi situasi yang kurang baik.
Adapun compassion berkaitan dengan bagaimana seseorang mampu membuat orang lain merasa dihargai, didengarkan, dan tidak dirugikan dalam hubungan kerja. Sementara consistency menekankan kesesuaian antara ucapan, tindakan, dan komitmen yang ditunjukkan secara berkelanjutan.
Keempat unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan kerja yang sehat sekaligus menciptakan kepercayaan di dalam organisasi.
Menyesuaikan Komunikasi dengan Karakter Stakeholder
Materi berikutnya membahas bagaimana pendekatan terhadap stakeholder dapat disesuaikan berdasarkan gaya komunikasi DISC.
Dalam materi tersebut, karakter komunikasi dibagi menjadi empat pendekatan, yaitu Dominance (D), Influence (I), Steadiness (S), dan Conscientiousness (C).
Tipe Dominance cenderung tegas, cepat, dan berorientasi pada hasil serta keputusan. Influence lebih ekspresif, persuasif, dan menyukai interaksi yang membangun respons serta antusiasme.
Sementara Steadiness digambarkan sebagai karakter yang tenang, suportif, dan menjaga stabilitas serta harmoni. Adapun Conscientiousness lebih menekankan detail, analisis, sistematis, serta membutuhkan data yang jelas.
Pemahaman terhadap perbedaan karakter tersebut menjadi bekal penting bagi pengelola eksekutif dalam membangun komunikasi. Tidak semua stakeholder dapat didekati dengan cara yang sama. Kemampuan menyesuaikan pendekatan komunikasi menjadi bagian dari upaya menciptakan hubungan kerja yang lebih efektif.
Memetakan Stakeholder Berdasarkan Power dan Interest
Para peserta juga mendapatkan materi mengenai Power-Interest Matrix, yaitu pemetaan stakeholder berdasarkan tingkat kekuasaan dan kepentingannya terhadap organisasi.
Dalam pendekatan tersebut terdapat empat kelompok, yaitu Manage Closely, Keep Satisfied, Keep Informed, dan Monitor.
Stakeholder dengan tingkat power dan interest yang tinggi perlu dikelola secara dekat melalui keterlibatan aktif, pembaruan informasi secara rutin, serta pengelolaan ekspektasi yang jelas.
Sementara stakeholder dengan power tinggi tetapi interest lebih rendah perlu tetap dijaga kepuasannya dan mendapatkan informasi penting agar tidak muncul kejutan negatif.
Untuk stakeholder dengan interest tinggi tetapi power rendah, komunikasi dan pemberian informasi yang jelas tetap diperlukan. Sedangkan kelompok dengan tingkat power dan interest yang rendah dapat dipantau secara berkala karena posisinya dapat berubah seiring perkembangan situasi.
Materi ini memberikan perspektif bahwa pengelolaan stakeholder merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan organisasi dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan terhadap gerak Persyarikatan.
Reputasi Organisasi Dibangun Secara Kolektif
Pembahasan mengenai reputasi organisasi juga menjadi bagian menarik dalam Bimtek Eksekutif. Salah satu materi mengangkat pembelajaran dari kasus Wells Fargo mengenai bagaimana pengaruh stakeholder management terhadap reputasi organisasi.
Pesan yang ditekankan adalah bahwa reputasi organisasi bersifat kolektif, yang dibentuk oleh tindakan individu di dalam organisasi.
Dengan demikian, keputusan atau tindakan satu orang dapat memberikan pengaruh terhadap nama baik seluruh organisasi. Bahkan, ketika kebutuhan salah satu stakeholder dipenuhi dengan mengabaikan stakeholder lainnya, risiko yang pada awalnya terlihat kecil dapat berkembang menjadi persoalan reputasi yang lebih besar.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa setiap individu yang berada di dalam organisasi memiliki peran dalam menjaga reputasi Persyarikatan.
Dari Evaluasi Menuju Perbaikan
Selain materi mengenai stakeholder dan reputasi, dalam sesi pembelajaran juga dibahas sejumlah upaya improvement dalam pengelolaan organisasi. Beberapa poin yang muncul antara lain pengaturan jadwal masuk, integrasi finger presensi, briefing pagi, cashless, pengelolaan cash in/cash out, serta CMS.
Berbagai materi tersebut memberikan gambaran bahwa pengelolaan eksekutif membutuhkan proses yang terus berkembang. Administrasi, komunikasi, hubungan dengan stakeholder, hingga sistem kerja perlu ditata agar semakin efektif dan mendukung tujuan organisasi.
Bagi PDM Temanggung, keikutsertaan dalam Bimtek Eksekutif menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus meningkatkan kapasitas pengelolaan Persyarikatan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal untuk memperkuat sistem kerja, membangun komunikasi yang lebih baik, serta menghadirkan tata kelola organisasi yang semakin profesional.
Bimtek Eksekutif PWM Jawa Tengah sendiri secara khusus ditujukan kepada manajer dan seluruh staf eksekutif PDM dari wilayah Pekalongan Raya, Kedu Raya, dan Banyumas Raya.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh program yang dirancang, tetapi juga oleh bagaimana setiap orang di dalamnya mampu menjalankan peran dengan kompeten, berkomunikasi secara tepat, menjaga kepercayaan, serta konsisten dalam memberikan kontribusi.
Belajar untuk memperbaiki sistem, memahami stakeholder untuk memperkuat hubungan, dan menjaga kepercayaan untuk merawat reputasi Persyarikatan. Dari ruang pembelajaran, lahir ikhtiar untuk membangun Muhammadiyah yang semakin profesional dan berkemajuan.












