Berita

Pesan Ust. Mukharom Kuliah Subuh Perdana Ramadhan di Masjid Al-Huda Diwak: Puasa Berlandaskan Iman, Kunci Gerbang Ar-Rayyan

122
×

Pesan Ust. Mukharom Kuliah Subuh Perdana Ramadhan di Masjid Al-Huda Diwak: Puasa Berlandaskan Iman, Kunci Gerbang Ar-Rayyan

Sebarkan artikel ini
Pesan Ust. Mukharom Kuliah Subuh Perdana Ramadhan di Masjid Al-Huda Diwak: Puasa Berlandaskan Iman, Kunci Gerbang Ar-Rayyan

Pesan Ust. Mukharom Kuliah Subuh Perdana Ramadhan di Masjid Al-Huda Diwak: Puasa Berlandaskan Iman, Kunci Gerbang Ar-Rayyan

KANDANGAN – Suasana khidmat menyelimuti Dusun Diwak, Desa Baledu, Kecamatan Kandangan, pada fajar pertama bulan suci Ramadhan 1447 H. Jamaah memadati Masjid Al-Huda untuk mengikuti Kuliah Subuh perdana yang menghadirkan penceramah kondang setempat, Ust. Mukharom, S.Ag.

Dalam ceramah pembukanya, Ust. Mukharom membawa pesan-pesan kesejukan dan penguatan spiritual bagi umat Muslim yang baru saja memulai perjalanan ibadah puasa mereka. Berikut adalah laporan lengkap mengenai pokok-pokok bahasan yang disampaikan beliau.

Menyikapi Perbedaan dengan Ilmu: Metode Penentuan Awal Ramadhan

Membuka tausiyahnya, Ust. Mukharom menyinggung topik yang selalu hangat setiap tahunnya, yakni metode penentuan awal bulan Ramadhan. Beliau menjelaskan bahwa perbedaan dalam memulai puasa adalah hal yang wajar dalam khazanah keilmuan Islam dan tidak boleh menjadi pemecah belah ukhuwah.

Beliau memaparkan dua metode utama yang digunakan di Indonesia:

  1. Metode Rukyatul Hilal: Pengamatan langsung terhadap hilal (bulan sabit muda) saat matahari terbenam pada hari ke-29 bulan Sya’ban.

  2. Metode Hisab: Perhitungan astronomis untuk menentukan posisi bulan secara matematis.

“Apapun metode yang diikuti, yang paling penting adalah kesungguhan kita dalam beribadah. Perbedaan matla’ atau cara pandang adalah rahmat, selama kita berpegang pada otoritas yang ada dan menjaga saling hormat-menghormati di tengah masyarakat,” ujar Ust. Mukharom di hadapan jamaah yang menyimak dengan antusias.

Pesan Baginda Nabi: Puasa Berlandaskan Iman dan Ihtisab

Inti dari Kuliah Subuh kali ini berfokus pada sebuah hadits monumental yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Ust. Mukharom menekankan pentingnya meluruskan niat sejak hari pertama agar puasa tidak sekadar menjadi ritual menahan lapar dan dahaga.

Beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala (ihtisaban), maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ust. Mukharom membedah dua syarat utama diterimanya puasa tersebut:

  • Imanan (Berdasarkan Iman): Artinya, kita berpuasa karena meyakini bahwa ini adalah perintah Allah SWT, bukan karena tren, paksaan lingkungan, atau sekadar ikut-ikutan.

  • Ihtisaban (Mengharap Ridha Allah): Ini berkaitan dengan keikhlasan. Seseorang yang ihtisab tidak akan mengeluh dengan beratnya haus dan lapar, karena fokusnya adalah “upah” spiritual dari Sang Pencipta.

“Jika kedua unsur ini menyatu dalam dada seorang mukmin, maka Ramadhan ini akan menjadi momentum penggugur dosa atau cleansing total terhadap khilaf kita di masa lalu,” tambahnya.

Keistimewaan Ahli Puasa: Gerbang Ar-Rayyan di Surga

Sebagai penutup yang memotivasi, Ust. Mukharom menyampaikan kabar gembira mengenai kedudukan mulia orang-orang yang berpuasa di akhirat kelak. Beliau menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan penghormatan khusus bagi hamba-Nya yang telah mengikhlaskan syahwat dan nafsu makannya demi ketaatan.

Di dalam surga, terdapat sebuah pintu khusus yang bernama Ar-Rayyan. Pintu ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang istiqamah menjalankan ibadah puasa.

“Bayangkan, di hari kiamat nanti, akan ada seruan: ‘Mana orang-orang yang berpuasa?’. Maka berdirilah mereka dan masuk melalui pintu Ar-Rayyan. Begitu orang terakhir masuk, pintu itu ditutup rapat dan tidak ada lagi yang bisa melewatinya,” urai Ust. Mukharom dengan nada bicara yang menggetarkan hati jamaah.

Keutamaan ini, menurut beliau, harus menjadi “bahan bakar” bagi warga Diwak dan Baledu agar tetap semangat menjalankan tarawih, tadarus, dan sedekah hingga akhir bulan nanti.

Antusiasme Jamaah Masjid Al-Huda

Kuliah Subuh perdana di Ramadhan 1447 H ini diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ust. Mukharom. Suasana Masjid Al-Huda yang tenang di lereng perbukitan Kandangan menambah kekhusyukan acara tersebut.

Salah satu jamaah, Bapak Ahmad, mengaku sangat terbantu dengan penjelasan Ust. Mukharom. “Penjelasan beliau tentang metode penentuan puasa membuat kami lebih tenang. Dan pengingat tentang pintu Ar-Rayyan benar-benar membuat kami semangat memulai hari pertama ini,” ungkapnya.

Dengan dimulainya rangkaian Kuliah Subuh ini, diharapkan kualitas ibadah masyarakat di Desa Baledu, khususnya Dusun Diwak, dapat meningkat secara spiritual dan sosial sepanjang bulan suci ini.

Komentar