Tadabbur Al-Qur’an: Mengetuk Pintu Hati dan Mengobati Jiwa di Masjid Nurul Iman Kandangan
KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana sejuk di kawasan Punduhan, Kandangan, pada Ahad Wage, 12 April 2026, terasa lebih khidmat dari biasanya. Ratusan jamaah dari berbagai penjuru memadati Masjid Nurul Iman untuk mengikuti agenda rutin Pengajian Ahad Pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan.
Hadir sebagai pemateri utama adalah Ust. Drs. H. M. Bani Sukron, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung. Dalam ceramahnya yang bertajuk pentingnya interaksi batin dengan wahyu ilahi, beliau menekankan tiga poin krusial: Tadabbur sebagai terapi hati, bahaya hati yang terkunci, serta korelasi antara tadabbur dengan gerakan literasi umat.
Tadabbur: Terapi Spiritual untuk Ketenangan Batin
Membuka materi, Ust. Bani Sukron mengajak jamaah untuk merenungkan kembali tujuan utama membaca Al-Qur’an. Beliau menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar deretan teks untuk diperlombakan keindahan suaranya, melainkan obat (syifa) bagi kegelisahan manusia modern.
“Di tengah gempuran kesibukan duniawi yang sering kali membuat kita stres dan hampa, Tadabbur hadir sebagai terapi terbaik. Ia adalah cara kita untuk senantiasa mengingat Allah SWT,” ujar beliau di hadapan jamaah yang menyimak dengan antusias.
Beliau kemudian mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 28: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”
Menurut Ust. Bani, ketentraman hati yang sejati tidak ditemukan dalam materi, melainkan pada sejauh mana seorang hamba mampu menghadirkan makna ayat-ayat Allah dalam setiap tarikan napasnya. Tadabbur, atau proses merenungkan makna secara mendalam, akan memancarkan cahaya yang mampu mencerahkan pikiran yang buntu dan menenangkan jiwa yang guncang.
Bahaya Hati yang Terkunci
Lebih lanjut, Ust. Bani Sukron memberikan peringatan keras mengenai fenomena “hati yang terkunci”. Beliau menjelaskan bahwa hidayah Allah itu luas, namun ia hanya akan masuk ke dalam wadah yang terbuka.
Hati yang tertutup dari hidayah sering kali digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai hati yang telah kehilangan sensitivitasnya terhadap kebenaran. “Hati yang terkunci adalah kondisi di mana seseorang mendengar ayat-ayat Allah, melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, namun tidak ada sedikit pun perubahan perilaku atau peningkatan iman. Ini adalah musibah spiritual yang paling besar,” tegasnya.
Penyebab hati terkunci, menurut beliau, adalah kesombongan, keterikatan berlebih pada dunia, serta keengganan untuk mengakui kesalahan. Ketika hati sudah tertutup, maka kebenaran sejelas apa pun akan tertolak. Oleh karena itu, tadabbur berfungsi sebagai “kunci” untuk membuka kembali gembok-gembok hati tersebut agar cahaya ilahi bisa kembali masuk dan memberikan bimbingan hidup.
Tadabbur sebagai Motor Gerakan Literasi
Poin menarik yang disampaikan Ust. Bani adalah kaitan antara spiritualitas dan intelektualitas. Beliau mendorong agar semangat tadabbur ini menjadi pemantik bagi Gerakan Literasi di lingkungan Muhammadiyah dan masyarakat umum.
“Tadabbur tidak mungkin terjadi tanpa aktivitas membaca (iqra) dan memahami. Inilah literasi yang sesungguhnya. Seorang Muslim yang gemar bertadabbur pastilah seorang yang rajin membaca, kritis dalam berpikir, dan luas wawasannya,” jelas Wakil Ketua PDM Temanggung tersebut.
Beliau mengaitkan semangat literasi ini dengan misi kerasulan dalam Surah Al-Anbiya ayat 107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
Menurut Ust. Bani, untuk menjadi Rahmatan lil ‘Alamin, umat Islam harus cerdas dan terpelajar. Dengan memahami Al-Qur’an melalui tadabbur, umat akan memiliki bekal untuk mengelola dunia dengan bijaksana, menebar kemaslahatan, dan menjadi solusi atas berbagai problematika sosial. Literasi bukan hanya soal bebas buta aksara, melainkan kemampuan mengolah informasi menjadi ilmu yang bermanfaat bagi sesama.
Antusiasme dan Harapan
Pengajian yang berlangsung pukul 06.00 hingga 07.00 WIB ini ditutup dengan sesi doa bersama. Meskipun durasinya relatif singkat, kedalaman materi yang disampaikan meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta. Masjid Nurul Iman yang menjadi pusat kegiatan tampak penuh sesak hingga ke area selasar, menunjukkan tingginya dahaga spiritual masyarakat Kandangan.
Ketua PCM Kandangan dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengajian ini terbuka untuk umum sebagai wujud dakwah inklusif Muhammadiyah. “Kami ingin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali ke masjid, bukan hanya untuk salat, tapi untuk menuntut ilmu yang membebaskan dan mencerahkan,” tuturnya.
Kegiatan ini juga dimeriahkan dengan ajakan “Siapkan Infaq Terbaik” sebagai bentuk dukungan terhadap program-program keumatan di wilayah Kandangan. Di akhir acara, para jamaah tampak saling beramah tamah, membawa pulang semangat baru untuk lebih giat berinteraksi dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Sesuai dengan kutipan hadis yang tertera pada poster kegiatan: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Pengajian Ahad Pagi ini diharapkan menjadi langkah nyata warga Kandangan dalam meniti jalan cahaya menuju rida-Nya.












