Berita

Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian Rutin PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

161
×

Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian Rutin PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

Sebarkan artikel ini
Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

BALEDU – Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Baledu kembali menggelar pengajian rutin yang dihadiri oleh segenap pimpinan, anggota, dan simpatisan Aisyiyah di lingkungan Baledu bertempat di MI Muhammadiyah Baledu. Pengajian kali ini terasa istimewa dengan kehadiran Ustadz Jeni Hisyam dari Korps Mubaligh Muhammadiyah sebagai pemateri utama. Dalam tausiyahnya yang menyentuh hati, Ustadz Jeni mengangkat tema reflektif yang sering luput dari kesadaran sehari-hari, yakni tentang hakikat kenikmatan dan ujian hidup yang sesungguhnya.

Suasana pengajian berlangsung khidmat saat Ustadz Jeni memulai pembahasannya dengan menyoroti fenomena kelalaian manusia. Beliau menekankan bahwa musuh terbesar manusia seringkali bukan kesulitan hidup, melainkan rasa nyaman dan kenikmatan yang melenakan.

Nikmat Sehat: Harta yang Sering Dilupakan

Dalam pembukaannya, Ustadz Jeni mengingatkan jamaah tentang sabda Nabi Muhammad SAW mengenai dua kenikmatan yang sering membuat manusia tertipu, yakni kesehatan dan waktu luang. Fokus utama beliau tertuju pada nikmat sehat (nikmatul afiyah).

“Seringkali manusia baru menyadari mahalnya harga kesehatan ketika sakit itu datang. Saat tubuh bugar, kaki kuat melangkah, dan mata awas melihat, kita sering lupa bahwa itu semua adalah pinjaman dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan,” ujar Ustadz Jeni di hadapan jamaah ibu-ibu Aisyiyah yang menyimak dengan antusias.

Beliau memaparkan ironi perilaku manusia yang cenderung lebih dekat kepada Allah saat sedang sakit atau tertimpa musibah, namun justru menjauh dan sombong ketika tubuhnya sehat. Padahal, kesehatan adalah modal utama untuk beribadah. Ketika nikmat sehat itu dicabut, barulah timbul penyesalan karena waktu sehat yang lalu tidak dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh.

Ujian Kenikmatan Lebih Berat dari Ujian Kesengsaraan

Poin krusial yang disampaikan Ustadz Jeni adalah mengenai konsep “Ujian”. Selama ini, banyak orang beranggapan bahwa ujian hidup hanya berupa kemiskinan, sakit, atau kehilangan. Padahal, menurut Ustadz Jeni, kenikmatan adalah bentuk ujian yang justru lebih sering memakan korban kegagalan.

“Manusia diuji dengan kenikmatan, banyak yang tidak lulus,” tegasnya.

Beliau menjelaskan logikanya dengan gamblang. Ketika seseorang diuji dengan musibah, secara naluriah ia akan bersabar, memohon ampun, dan mendekat kepada Allah. Namun, ketika seseorang diuji dengan kekayaan, kesehatan yang prima, dan jabatan, kecenderungan untuk merasa hebat (ujub), pamer (riya), dan lupa bersyukur sangatlah besar.

Banyak manusia yang “tergelincir” imannya justru saat berada di puncak kesuksesan dan kesehatan, bukan saat berada di titik terendah. Inilah yang disebut sebagai istidraj, di mana Allah membiarkan hamba-Nya larut dalam kenikmatan maksiat sebelum akhirnya diazab dengan pedih. Oleh karena itu, lulus tidaknya seorang hamba bukan dilihat dari seberapa banyak hartanya, tetapi seberapa mampu ia menjadikan nikmat tersebut sebagai jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

Dua Golongan Manusia di Yaumul Hisab

Puncak materi yang disampaikan Ustadz Jeni Hisyam mengupas tentang kondisi manusia di akhirat kelak. Beliau membagi manusia dalam dua golongan besar berdasarkan kondisi hisab (perhitungan amal) mereka terkait nasibnya di dunia:

1. Ahli Musibah Golongan pertama adalah Ahli Musibah. Mereka adalah orang-orang yang selama hidup di dunia sering ditimpa cobaan, baik berupa penyakit menahun, kekurangan harta, maupun kehilangan orang-orang tercinta, namun mereka menerimanya dengan sabar dan ridha.

Ustadz Jeni menjelaskan bahwa bagi Ahli Musibah, penderitaan mereka di dunia berfungsi sebagai penggugur dosa. Di akhirat, hisab mereka cenderung lebih ringan karena “jatah” ujian mereka telah tunai dibayar di dunia. Allah memberikan pahala tanpa batas (ghairu hisab) bagi orang-orang yang sabar. Bahkan, digambarkan dalam riwayat bahwa ketika pahala kesabaran dibagikan, orang-orang yang semasa di dunia hidup enak akan merasa iri dan berharap kulit mereka digunting-gunting di dunia agar mendapatkan pahala sebesar itu.

2. Ahli Afiyah Golongan kedua adalah Ahli Afiyah. Ini adalah kelompok manusia yang selama hidup di dunia senantiasa diberikan kesehatan, kelapangan rezeki, kemudahan urusan, dan minim musibah fisik.

“Jangan merasa aman jika kita termasuk Ahli Afiyah,” peringat Ustadz Jeni.

Beliau menekankan bahwa Ahli Afiyah menghadapi hisab yang jauh lebih panjang dan mendetail. Setiap detik kesehatan yang dinikmati, setiap rupiah harta yang dimiliki, dan setiap kemudahan yang didapat, semuanya akan ditanya: “Untuk apa kau gunakan?”

Jika Ahli Musibah dosanya berguguran lewat sakitnya, maka Ahli Afiyah harus memastikan dosanya gugur lewat amal ibadah dan rasa syukur yang nyata. Jika kesehatan digunakan untuk maksiat atau sekadar sia-sia, maka kenikmatan itu akan berubah menjadi azab. Ujian bagi Ahli Afiyah adalah menjaga hati agar tidak terlena.

Ustadz Jeni Hisyam di Pengajian PRA Baledu: Waspada, Banyak Manusia Lupa Nikmat Sehat dan Gagal dalam Ujian Kenikmatan

Penutup: Ajakan untuk Muhasabah

Mengakhiri pengajian, Ustadz Jeni mengajak seluruh warga PRA Baledu untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Beliau berpesan agar jamaah yang saat ini sedang diberi nikmat sehat untuk tidak takabur, melainkan segera memanfaatkannya untuk kegiatan positif, seperti memakmurkan masjid, menyantuni anak yatim, dan aktif dalam kegiatan persyarikatan Aisyiyah.

“Jadilah Ahli Afiyah yang bersyukur, agar kelak hisab kita dimudahkan oleh Allah. Dan jika kita sedang diuji sebagai Ahli Musibah, bersabarlah, karena panen pahala sedang menanti kita,” tutup Ustadz Jeni.

Pengajian ini ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah PRA Baledu diberikan kekuatan iman untuk menghadapi ujian, baik itu ujian kesulitan maupun ujian kenikmatan, serta digolongkan ke dalam hamba-hamba yang selamat di hari perhitungan kelak. Para jamaah tampak pulang dengan wajah yang teduh, membawa bekal ilmu yang sangat berharga untuk kehidupan sehari-hari.

Komentar