Gelorakan Semangat Tajdid, Kajian Ahad Pagi PCM Kandangan Kupas Tuntas “Dasar-Dasar Islam Berkemajuan”
KANDANGAN, TEMANGGUNG – Suasana sejuk Ahad pagi di Masjid Nurul Iman Punduhan, Kandangan, terasa berbeda pada 18 Januari 2026. Ratusan jamaah dari berbagai ranting di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan telah memadati masjid sejak pukul 06.00 WIB. Mereka hadir untuk mengikuti Kajian Rutin Ahad Pagi, sebuah agenda unggulan yang menjadi oase spiritual sekaligus intelektual bagi warga persyarikatan setempat.
Pada kesempatan kali ini, kajian menghadirkan narasumber istimewa, yakni Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Temanggung, Ustaz Drs. H. Asy’ari Muhadi, MA. Dalam durasi satu jam penuh, beliau membawakan materi yang sangat fundamental namun relevan dengan tantangan zaman, yakni “Dasar-Dasar Islam Berkemajuan ala Muhammadiyah.”
Materi ini menjadi sangat krusial mengingat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya berfokus pada pemurnian akidah, tetapi juga pembangunan peradaban. Dalam pembukaannya, Ustaz Asy’ari menekankan bahwa terminologi “Islam Berkemajuan” bukanlah sebuah aliran baru, melainkan penegasan kembali akan watak asli ajaran Islam yang shus (dinamis) dan ya’lu wala yu’la ‘alayh (tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya).
“Islam Berkemajuan adalah Islam yang mengajak pada kemajuan peradaban, yang menyemaikan benih-benih kebaikan dalam segala aspek kehidupan. Islam yang tidak hanya sibuk mengurus urusan akhirat semata, tetapi juga memastikan bahwa umat Islam menjadi khalifah fil ard yang unggul dalam sains, teknologi, dan sosial kemasyarakatan,” ujar Ustaz Asy’ari di hadapan para jamaah.
Lebih dalam, Ustaz Asy’ari menguraikan fondasi teologis dari Islam Berkemajuan. Beliau menjelaskan bahwa dasar utamanya adalah Tauhid yang murni. Tauhid dalam perspektif Islam Berkemajuan, menurutnya, adalah tauhid yang membebaskan manusia dari belenggu takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC), serta membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Namun, tauhid ini juga bersifat transformatif; artinya, keyakinan kepada Allah harus melahirkan etos kerja, disiplin, dan semangat untuk mengubah nasib menjadi lebih baik.
“Warga Muhammadiyah di Kandangan harus memahami bahwa ibadah kita—shalat kita, puasa kita—harus berdampak sosial. Inilah semangat Surat Al-Ma’un yang diajarkan Kiai Ahmad Dahlan. Islam Berkemajuan menuntut kita untuk cerdas secara spiritual dan peduli secara sosial. Tidak disebut berkemajuan jika masjidnya megah tetapi tetangganya kelaparan atau putus sekolah,” tegasnya dengan nada berapi-api yang disambut anggukan khidmat para jamaah.
Poin penting selanjutnya yang disampaikan oleh Wakil Ketua PDM Temanggung tersebut adalah mengenai integrasi antara wahyu dan akal. Beliau memaparkan bahwa salah satu ciri khas Islam Berkemajuan adalah penggunaan akal sehat dan ilmu pengetahuan sebagai mitra wahyu dalam memecahkan masalah kehidupan. Muhammadiyah, lanjutnya, tidak pernah mempertentangkan agama dengan sains. Sebaliknya, sains adalah sarana untuk membuktikan kebesaran Allah.
Dalam konteks kehidupan modern di tahun 2026 ini, Ustaz Asy’ari mengajak warga PCM Kandangan untuk adaptif terhadap teknologi namun tetap teguh dalam prinsip. “Dunia berubah cepat. Kita sekarang hidup di era digital yang serba cepat. Islam Berkemajuan mengajarkan kita untuk tidak anti terhadap perubahan zaman (tajdid), selama tidak melanggar syariat. Kita gunakan media sosial, seperti yang dilakukan oleh tim kreatif Muhammadiyah Kandangan, untuk dakwah yang mencerahkan, bukan untuk menyebar hoaks atau kebencian,” tambahnya.
Beliau juga menyinggung tentang sikap Wasathiyah (tengahan) yang menjadi karakter Muhammadiyah. Islam Berkemajuan adalah Islam yang moderat, tidak ekstrem kanan (radikal) dan tidak ekstrem kiri (liberal). Sikap ini sangat penting untuk menjaga kerukunan, baik di internal umat Islam maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menjelang akhir kajian pada pukul 07.00 WIB, Ustaz Asy’ari memberikan konklusi bahwa implementasi Islam Berkemajuan di tingkat cabang seperti PCM Kandangan harus mewujud dalam amal usaha yang nyata. Pendidikan yang berkualitas, pelayanan kesehatan yang prima, dan santunan sosial yang terorganisir adalah bukti nyata dari teologi Islam Berkemajuan.
“Mari kita jadikan Kajian Ahad Pagi ini bukan sekadar rutinitas dengar lalu lupa. Tapi sebagai ‘bengkel’ untuk memperbaiki niat dan strategi kita dalam ber-Muhammadiyah. Pulang dari sini, bapak-bapak dan ibu-ibu harus membawa semangat baru: semangat untuk menjadi muslim yang berkemajuan, yang kehadirannya dirindukan dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar,” pungkas Ustaz Asy’ari menutup kajian.
Antusiasme jamaah terlihat hingga akhir acara. Banyak di antara mereka yang merasa mendapatkan pencerahan baru mengenai identitas kemuhammadiyahan mereka. Kajian ini tidak hanya memperkuat iman, tetapi juga memperbarui wawasan keagamaan agar tetap relevan dengan konteks kekinian.
Pihak penyelenggara, PCM Kandangan, berkomitmen untuk terus menghadirkan tema-tema aktual dan pembicara kompeten dalam Kajian Rutin Ahad Pagi selanjutnya. Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir, dokumentasi dan informasi kegiatan Muhammadiyah Kandangan dapat diakses melalui berbagai kanal media sosial resmi di Instagram, Facebook, dan YouTube Muhammadiyah Kandangan, serta akun TikTok Suara Pemuda. Kajian ini menjadi bukti bahwa syiar Islam di Kandangan terus hidup dan menggeliat, membawa pesan Islam yang damai, mencerahkan, dan memajukan.












