Berita

Menuju Kemenangan Hakiki: Ustaz Muflih Wahyanto Ajak Jamaah PRM Baledu Evaluasi Diri dan Sehatkan Hati

131
×

Menuju Kemenangan Hakiki: Ustaz Muflih Wahyanto Ajak Jamaah PRM Baledu Evaluasi Diri dan Sehatkan Hati

Sebarkan artikel ini
Menuju Kemenangan Hakiki: Ustaz Muflih Wahyanto Ajak Jamaah PRM Baledu Evaluasi Diri dan Sehatkan Hati

Menuju Kemenangan Hakiki: Ustaz Muflih Wahyanto Ajak Jamaah PRM Baledu Evaluasi Diri dan Sehatkan Hati

BALEDU, KANDANGAN – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Falah, Kedunggintung, Baledu, pada Jumat sore (20/2/2026). Ratusan jamaah yang terdiri dari warga sekitar dan simpatisan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Baledu tampak memadati serambi hingga ruang utama masjid. Kehadiran mereka bukan tanpa alasan; sore itu digelar acara “Kajian Menjelang Berbuka” yang menghadirkan tokoh pendidik sekaligus ulama kharismatik, Ustaz Drs. Muflih Wahyanto.

Acara yang mengusung tema besar “Meraih Kemuliaan di Bulan Ramadan” ini bertujuan untuk memberikan bekal spiritual bagi umat Islam dalam menjalani hari-hari penuh berkah. Sebagai pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Assalam Temanggung, Ustaz Muflih menyampaikan pesan-pesan mendalam yang berfokus pada transformasi diri pasca-Ramadan, pentingnya evaluasi ibadah, serta metode menyehatkan hati.

Ramadan Sebagai Madrasah: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Dalam pembukaan ceramahnya, Ustaz Muflih menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan untuk menahan lapar dan dahaga. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah “madrasah” atau sekolah kehidupan yang menempa karakter seorang mukmin.

“Keberhasilan ibadah Ramadan seseorang tidak diukur dari seberapa meriah ia merayakan Idul Fitri, melainkan dari bagaimana perilakunya setelah bulan ini berlalu,” tegas Ustaz Muflih di hadapan jamaah. Beliau menjelaskan bahwa indikator diterimanya amal ibadah adalah adanya perubahan positif (ishlah) dalam diri.

Menurutnya, setiap Muslim harus memiliki target untuk menjadi individu yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika setelah Ramadan kualitas kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial kita masih sama saja, maka kita perlu mempertanyakan hakikat puasa yang kita jalani. “Ramadan adalah momentum upgrade diri. Kita harus keluar dari bulan ini sebagai pemenang yang memiliki integritas moral lebih tinggi,” imbuhnya.

Muhasabah Ibadah: Lebih dari Sekadar Gugur Kewajiban

Poin kedua yang menjadi sorotan utama dalam kajian tersebut adalah pentingnya evaluasi atau muhasabah terhadap seluruh rangkaian ibadah yang dijalankan. Ustaz Muflih mengajak jamaah untuk tidak terjebak dalam rutinitas ibadah yang bersifat mekanis atau sekadar menggugurkan kewajiban.

Beliau memerinci beberapa aspek krusial yang perlu dievaluasi:

  • Kualitas Sholat: Apakah sholat kita sudah mencapai derajat khusyuk, ataukah hanya sekadar gerakan ruku’ dan sujud yang tergesa-gesa? Ustaz Muflih mengingatkan bahwa sholat yang benar harus mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.

  • Hakikat Puasa: Puasa bukan hanya soal perut, tapi juga puasa lisan dari ghibah dan puasa hati dari penyakit iri dengki.

  • Spirit Sedekah: Beliau mendorong jamaah untuk mengevaluasi kedermawanan mereka. Ramadan harus menjadi pemantik sifat dermawan yang berkelanjutan, bukan musiman. Sedekah bukan soal nominal, melainkan soal keikhlasan dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.

“Evaluasi ini penting agar kita tahu di mana letak kebocoran amal kita. Jangan sampai kita berlelah-lelah beribadah, namun tidak mendapatkan pahala apa pun selain rasa lelah itu sendiri,” pesan beliau dengan nada lembut namun tegas.

Kembali ke Fitrah: Menjadikan Hati Sehat (Qolbun Salim)

Sebagai penutup materinya, Ustaz Muflih membahas mengenai kesehatan hati. Beliau menjelaskan bahwa inti dari seluruh ajaran Islam adalah membentuk hati yang selamat (qolbun salim). Hati yang sehat adalah hati yang bersih dari syirik, sombong, dendam, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.

Beliau memaparkan bahwa Ramadan adalah waktu terbaik untuk melakukan “detoksifikasi” spiritual. Dengan memperbanyak dzikir, tadarus Al-Qur’an, dan merenungkan kekuasaan Allah, karat-karat yang menempel di hati perlahan akan luruh.

“Hati yang sehat akan melahirkan anggota badan yang taat. Jika hati kita sehat, maka mata akan mudah menangis saat mendengar ayat Allah, tangan akan ringan memberi, dan kaki akan mantap melangkah ke masjid,” ujar Ustaz Muflih yang diamini oleh para jamaah.

Kebersamaan dalam Berbuka

Setelah kajian berakhir, acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustaz Muflih. Sesuai dengan pengumuman di poster, pihak panitia PRM Baledu menyediakan takjil berbuka bagi seluruh jamaah yang hadir. Kehangatan ukhuwah Islamiyah terasa sangat kental saat jamaah saling berbagi makanan ringan sambil menunggu kumandang adzan Maghrib.

Ketua panitia penyelenggara menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya PRM Baledu untuk menghidupkan syiar Islam di wilayah Kedunggintung. “Kami berharap pesan-pesan dari Ustaz Muflih dapat terpatri di hati warga, sehingga Ramadan tahun ini benar-benar membawa perubahan nyata bagi lingkungan kita,” ungkapnya.

Dengan berakhirnya kajian ini, para jamaah pulang membawa bekal ilmu yang berharga. Harapannya, semangat evaluasi diri dan pembersihan hati ini tidak hanya bertahan selama bulan suci, tetapi terus bersemi di bulan-bulan berikutnya.

Komentar