Berita

Kuliah Subuh Spesial Bersama Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A. di Masjid Darul Muttaqien, Danurejo,Kedu, Temanggung.

4
×

Kuliah Subuh Spesial Bersama Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A. di Masjid Darul Muttaqien, Danurejo,Kedu, Temanggung.

Sebarkan artikel ini

Kuliah Subuh Spesial Bersama Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A. di Masjid Darul Muttaqien, Danurejo,Kedu, Temanggung.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, pada Sabtu, 4 Juli 2026, telah terselenggara Kuliah Subuh Spesial bersama Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A., Dai Nasional yang masih muda dari Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, dengan mengangkat tema “Semangat Hijrah, Kuatkan Ukhuwah.”

Acara dipandu oleh Bapak Muhlisina selaku pembawa acara dan dibuka dengan sambutan dari Ketua Takmir, Bapak Mukhlis. Kajian ini juga dihadiri oleh Ketua PCM Kedu, Bapak Nurudin, Ketua PRM Danurejo, Bapak Hardiyanto, serta diikuti oleh lebih dari 200 jamaah. Antusiasme masyarakat sangat tinggi, terbukti dengan hadirnya jamaah tidak hanya dari Danurejo, tetapi juga dari berbagai daerah di sekitarnya.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nur Fajri Romadhon menjelaskan bahwa hijrah pada awalnya adalah perpindahan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Namun, makna hijrah yang lebih hakiki adalah berpindah dari keburukan menuju kebaikan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Al-Muhajir man hajara ma nahallahu ‘anhu.”

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah.”

Beliau juga mengisahkan perjuangan para sahabat ketika berhijrah. Mereka meninggalkan kampung halaman dan harta benda demi mempertahankan keimanan. Sebagian besar berhijrah secara sembunyi-sembunyi karena mendapat tekanan dari kaum musyrikin Quraisy, sementara Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang berhijrah secara terang-terangan dengan penuh keberanian.

Salah satu kisah yang menginspirasi adalah hijrahnya Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu. Sebagai saudagar kaya di Makkah, beliau rela meninggalkan seluruh hartanya demi memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Setibanya di Madinah, beliau dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ radhiyallahu ‘anhu, yang dengan tulus menawarkan separuh harta, rumah, bahkan siap menceraikan salah satu istrinya agar dapat dinikahi Abdurrahman. Namun, dengan penuh kemuliaan akhlak, Abdurrahman hanya meminta ditunjukkan letak pasar. Berbekal usaha, kejujuran, dan tawakal kepada Allah, beliau kembali menjadi saudagar yang sukses.

Dari kisah tersebut, Ustadz Nur Fajri menegaskan bahwa hijrah selalu membutuhkan pengorbanan, kesungguhan, dan dukungan dari sesama. Persaudaraan yang dibangun antara kaum Muhajirin dan Anshar menjadi bukti bahwa ukhuwah Islamiyah mampu menguatkan langkah seseorang dalam mempertahankan keimanan dan meraih kebaikan.

Kajian ini mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan semangat hijrah sebagai momentum memperbaiki diri, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, serta mempererat ukhuwah Islamiyah. Dengan saling menguatkan dalam kebaikan dan ketakwaan, insya Allah perjalanan hijrah menuju ridha Allah akan menjadi lebih ringan dan penuh keberkahan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan keistiqamahan kepada kita semua untuk terus berhijrah menuju kebaikan dan menjaga persaudaraan dalam bingkai Islam. Aamiin.

Komentar