Artikel

Dakwah Muhammadiyah Dimulai dari Rumah

14
×

Dakwah Muhammadiyah Dimulai dari Rumah

Sebarkan artikel ini

Dakwah Muhammadiyah Dimulai dari Rumah

Oleh: Ustadz Suwondo Abu Kahfi

Semangat berdakwah merupakan ruh perjuangan Muhammadiyah. Di berbagai kesempatan, kader Muhammadiyah terus mengajak masyarakat untuk mengenal Islam yang berkemajuan melalui amal usaha, pengajian, pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan. Tidak sedikit yang mengajak masyarakat menyekolahkan putra-putrinya di sekolah Muhammadiyah, menabung di lembaga keuangan Muhammadiyah, berinfak melalui Lazismu, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan persyarikatan.

Semangat tersebut tentu menjadi sesuatu yang patut disyukuri. Sebab, dakwah memang menjadi identitas Muhammadiyah sejak pertama kali didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Namun, di tengah semangat mengajak orang lain menuju Muhammadiyah, ada satu pertanyaan sederhana yang layak menjadi bahan renungan bersama: sudahkah dakwah itu dimulai dari rumah kita sendiri?

Pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi muhasabah bagi setiap kader Muhammadiyah. Jangan sampai kita begitu bersemangat mengajak orang lain mencintai Muhammadiyah, tetapi keluarga sendiri justru belum benar-benar mengenal dan merasakan nilai-nilai perjuangan persyarikatan.

Apabila istri, suami, anak-anak, atau anggota keluarga telah menjadi bagian dari Muhammadiyah, tentu itu merupakan nikmat yang patut disyukuri kepada Allah Swt. Mereka tidak harus semuanya menjadi pengurus atau pimpinan. Akan tetapi, setidaknya mereka tumbuh bersama Muhammadiyah, menghadiri pengajian, mengikuti kajian selapanan, pengajian pekanan, ataupun berbagai kegiatan dakwah lainnya. Dengan demikian, rumah menjadi tempat pertama tumbuhnya kecintaan kepada Islam dan Muhammadiyah.

Sebaliknya, apabila hingga hari ini masih ada anggota keluarga yang belum dekat dengan Muhammadiyah, janganlah berputus asa. Dakwah bukanlah pekerjaan yang selesai dalam sehari atau semalam. Teruslah berdoa, terus berikhtiar dengan cara yang bijaksana, kemudian serahkan hasilnya kepada Allah Swt. dengan penuh tawakal. Hidayah tetap menjadi hak prerogatif Allah, sedangkan tugas manusia hanyalah menyampaikan dan memberikan teladan terbaik.

Sering kali kita berdalih dengan kisah Nabi Nuh a.s. atau Nabi Luth a.s. ketika berbicara tentang keluarga yang belum menerima dakwah. Memang benar, kedua kisah tersebut merupakan bagian dari pelajaran yang Allah abadikan dalam Al-Qur’an. Akan tetapi, kisah itu hendaknya tidak dijadikan alasan untuk merasa cukup atau membenarkan kurangnya ikhtiar dalam membina keluarga. Kisah para nabi merupakan pelajaran hidup yang harus dipahami secara utuh, bukan dijadikan pembenaran atas kelemahan diri.

Sebaliknya, umat Islam juga memiliki teladan besar dari Nabi Ibrahim a.s. dan Rasulullah Muhammad ﷺ dalam membangun keluarga yang dipenuhi keimanan. Keduanya menunjukkan bahwa dakwah dimulai dari lingkungan terdekat sebelum menjangkau masyarakat yang lebih luas. Keteladanan inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi setiap kader Muhammadiyah dalam membangun keluarga yang kokoh di atas nilai-nilai Islam.

Allah Swt. telah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat tersebut memberikan urutan yang sangat indah. Allah memerintahkan agar seseorang terlebih dahulu menjaga dirinya, kemudian keluarganya. Dari keluarga itulah dakwah akan berkembang kepada masyarakat yang lebih luas. Artinya, keberhasilan dakwah di luar rumah tidak boleh membuat seseorang melupakan amanah terbesar yang telah Allah titipkan di dalam rumahnya sendiri.

Rumah bukan sekadar tempat beristirahat setelah lelah beraktivitas. Rumah adalah madrasah pertama. Rumah adalah tempat lahirnya kader-kader umat. Seorang ayah adalah pemimpin yang bertanggung jawab membimbing keluarganya menuju jalan Allah, sementara seorang ibu menjadi pendamping sekaligus pendidik utama yang menanamkan akhlak, adab, dan kecintaan kepada agama sejak dini. Dari rumah seperti inilah lahir generasi yang kelak akan meneruskan estafet perjuangan Muhammadiyah.

Rasulullah ﷺ pun memberikan teladan yang luar biasa. Beliau bukan hanya pemimpin umat, pemimpin negara, dan pemimpin dakwah, tetapi juga menjadi sosok terbaik bagi keluarganya. Sebagaimana sabda beliau,

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya seberapa lantang ia berbicara di mimbar atau seberapa aktif ia mengurus organisasi. Ukuran yang paling nyata justru terlihat dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya.

Realitas di tengah masyarakat terkadang menunjukkan hal yang berbeda. Ada yang begitu piawai menyampaikan ceramah di hadapan banyak orang, tetapi komunikasi dengan istri dan anak-anak justru kurang terbangun. Ada yang sangat aktif menyusun program di Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Tapak Suci, maupun Hizbul Wathan, namun anak-anaknya sendiri tidak terbiasa menghadiri pengajian atau mengenal kegiatan Muhammadiyah. Ada pula yang mengajak masyarakat bersyukur menjadi bagian dari Muhammadiyah, tetapi suasana rumahnya justru dipenuhi perselisihan sehingga nilai-nilai dakwah belum benar-benar dirasakan oleh keluarganya.

Inilah saatnya setiap kader melakukan introspeksi. Dakwah bukan sekadar ajakan yang disampaikan melalui lisan. Dakwah harus dibayar dengan keteladanan. Sebab, keluarga adalah pihak pertama yang melihat bagaimana seseorang menjalankan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum masyarakat menilai dakwah kita, sesungguhnya keluargalah yang lebih dahulu merasakan dan menyaksikannya.

Melalui renungan tersebut, Ustadz Suwondo mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk tidak tergesa-gesa merasa berhasil dalam berdakwah apabila pembinaan terhadap keluarga sendiri masih terabaikan. Menurutnya, dakwah yang kuat bukan hanya diukur dari banyaknya ceramah, padatnya jadwal organisasi, atau ramainya kegiatan yang diselenggarakan. Dakwah yang kuat justru lahir dari rumah yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau mengingatkan agar para kader tidak sekadar bangga mengajak masyarakat menyekolahkan anak di sekolah Muhammadiyah, menabung di lembaga keuangan Muhammadiyah, atau aktif dalam berbagai amal usaha dan organisasi persyarikatan, sementara keluarga sendiri belum memperoleh perhatian yang sama. Semangat mengajak orang lain tentu merupakan amal yang baik, namun akan lebih bermakna apabila dimulai dari orang-orang terdekat yang menjadi amanah Allah Swt.

“Bukan berarti kita berhenti berdakwah kepada masyarakat. Dakwah kepada umat tetap harus berjalan. Hanya saja, jangan sampai semangat mengajak orang lain membuat kita lupa mengajak keluarga sendiri,” demikian pesan yang ingin beliau tekankan.

Beliau juga mengajak seluruh kader untuk berhati-hati agar tidak termasuk dalam golongan yang disebut Allah sebagai orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melaksanakannya. Peringatan tersebut termaktub dalam firman Allah Swt.,

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 3)

Selain itu, beliau juga mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 44,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu berpikir?”

Ayat tersebut bukan untuk menghakimi, melainkan menjadi bahan muhasabah bagi setiap muslim, khususnya para pejuang dakwah. Jangan sampai kesibukan membina umat justru membuat kita lalai membina keluarga yang menjadi tanggung jawab utama.

Dengan penuh kerendahan hati, Ustadz Suwondo juga menyampaikan bahwa nasihat tersebut bukan berarti dirinya telah menjadi pribadi yang paling baik. Beliau mengakui bahwa dirinya pun masih terus belajar, berdoa, dan berikhtiar agar keluarganya senantiasa berada dalam jalan dakwah.

Beliau bersyukur karena atas karunia Allah Swt., anak-anaknya diberikan kesempatan menempuh pendidikan di sekolah Muhammadiyah dan aktif dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Demikian pula istrinya yang aktif di Nasyiatul Aisyiyah (NA). Namun, menurut beliau, semua itu bukanlah alasan untuk berbangga diri, melainkan nikmat yang harus terus dijaga dengan doa, ikhtiar, dan rasa syukur kepada Allah.

Menurutnya, kader-kader unggul Muhammadiyah tidak lahir secara instan. Generasi emas persyarikatan tidak hanya dibentuk melalui rapat demi rapat atau forum organisasi semata. Mereka tumbuh dari keluarga yang menjadikan agama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beliau menggambarkan bahwa generasi Muhammadiyah bisa lahir dari meja makan yang dipenuhi obrolan tentang agama, dari ruang tamu yang menjadi tempat majelis taklim keluarga, dari seorang ibu salehah yang sabar mendidik anak-anaknya, serta dari seorang ayah yang menjadi imam dan teladan dalam keluarga. Dari rumah seperti inilah akan lahir anak-anak yang kelak aktif di IPM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, Hizbul Wathan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, hingga berbagai amal usaha Muhammadiyah lainnya.

Beliau juga mengingatkan bahwa proses perkaderan di Muhammadiyah memiliki beragam bentuk. Ada kader yang lahir karena keteladanan keluarga, ada yang tumbuh melalui lingkungan pendidikan, ada pula yang bergabung karena persahabatan ataupun simpati terhadap gerakan Muhammadiyah. Semua memiliki ruang untuk bertumbuh selama terus dibina dengan kasih sayang dan keteladanan.

Sebagai bentuk ikhtiar nyata, Ustadz Suwondo mengajak seluruh kader Muhammadiyah memulai dakwah dari tiga langkah sederhana.

Pertama, memulai pembinaan dari dalam keluarga. Luangkan waktu untuk berdialog dengan pasangan, mengajak anak-anak salat berjamaah, menghadiri pengajian bersama, serta membangun suasana rumah yang dekat dengan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah.

Kedua, menjadi teladan, bukan sekadar komandan. Anak-anak tidak hanya mendengar nasihat orang tua, tetapi lebih banyak meniru apa yang mereka lihat setiap hari. Karena itu, keteladanan menjadi metode pendidikan yang paling efektif.

Ketiga, meluruskan niat karena Allah Swt. Aktivitas di Muhammadiyah hendaknya tidak dilakukan demi pujian atau pengakuan sebagai aktivis, melainkan semata-mata sebagai ibadah dan pengabdian kepada Allah. Keikhlasan inilah yang akan menghadirkan keberkahan dalam setiap langkah dakwah.

Apabila rumah telah menjadi “Muhammadiyah kecil”, insyaallah dakwah di tengah masyarakat akan memiliki kekuatan moral yang jauh lebih besar. Ketika masyarakat melihat keharmonisan keluarga, akhlak anak-anak, serta keteladanan orang tua, maka ajakan kepada Muhammadiyah akan lebih mudah diterima karena lahir dari contoh nyata.

Pada akhirnya, Ustadz Suwondo kembali mengingatkan bahwa Muhammadiyah hanyalah kendaraan perjuangan. Tujuan akhirnya bukanlah sekadar menjadi pengurus, memiliki jabatan, atau aktif dalam organisasi. Sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah, seluruh gerak perjuangan diarahkan untuk mengantarkan umat menuju kehidupan yang diridhai Allah Swt. dan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat.

Beliau kemudian menutup renungannya dengan doa yang diabadikan Allah Swt. dalam Surah Al-Furqan ayat 74,

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami.”

Melalui doa tersebut, beliau mengajak seluruh kader Muhammadiyah agar tidak hanya sibuk memperbaiki umat dalam lingkup yang luas, tetapi juga memberikan perhatian penuh kepada “umat terkecil” yang Allah amanahkan, yakni keluarga sendiri.

Sebab, ketika rumah telah menjadi tempat tumbuhnya iman, akhlak, dan kecintaan kepada Muhammadiyah, di sanalah sesungguhnya fondasi persyarikatan sedang dibangun. Dari rumah akan lahir generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak, mencintai dakwah, dan siap melanjutkan perjuangan Muhammadiyah hingga akhir hayat.

Semoga Allah Swt. senantiasa melembutkan hati keluarga-keluarga Muhammadiyah, menguatkan langkah dalam mengemban amanah persyarikatan, serta menjadikan setiap rumah sebagai pusat lahirnya kader-kader terbaik yang istiqamah berjuang di jalan-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

catatan:

Materi ini disampaikan oleh Ustadz Suwondo Abu Kahfi dalam tausiah di Sumowono dan Ambarawa pada Bulan Ramadhan 1447 H/2026. Artikel ini disusun kembali dalam bentuk feature untuk memudahkan pembaca memahami pokok-pokok pesan yang disampaikan.

Komentar