Artikel

Kader Muhammadiyah: tak hanya dituntut, namun juga dituntun

10
×

Kader Muhammadiyah: tak hanya dituntut, namun juga dituntun

Sebarkan artikel ini

Kader Muhammadiyah: tak hanya dituntut, namun juga dituntun

 

Setiap kali berbicara tentang kader, Muhammadiyah sering sekali menyebutkan istilah “tuntutan”. Kader harus militan. Kader dituntut untuk mahir berorganisasi. Kader diharapkan siap ditempatkan di mana saja, kapan saja, dengan hasil yang maksimal. Tuntutan tersebut tidak salah — sebuah organisasi besar memang memerlukan individu yang siap menerima beban tugas berat. Namun, satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa kader tidak hanya perlu dituntut, tetapi juga harus dituntun dan mendapatkan bimbingan.

 

Perbedaannya sederhana tetapi penting. Menuntut adalah meminta hasil akhir. Menuntun adalah mendampingi dalam proses. Organisasi yang hanya menuntut, cepat atau lambat akan menghasilkan kader yang pandai dalam berorganisasi, tetapi kehilangan arah nilai — ahli dalam aspek teknis, tetapi lemah secara ideologis. Sebaliknya, organisasi yang benar-benar menuntun akan memastikan agar keterampilan tersebut tetap berjalan di jalur yang sesuai, yaitu Khittah Muhammadiyah: garis perjuangan yang menjadi pedoman dasar tentang bagaimana Muhammadiyah bergerak, bersikap terhadap politik, dan menjalankan dakwahnya di tengah masyarakat.

 

Mengapa “Dituntun” Sangat Penting

 

Khittah tidak muncul dari ruang kosong, melainkan berasal dari pengalaman pahit serta proses pembelajaran yang panjang. Ketika Muhammadiyah pernah terjebak dalam politik praktis di beberapa periode sejarahnya, Muhammadiyah menyadari bahwa kekuatan gerakan dakwah dan tajdid akan mudah surut jika para kadernya dibiarkan berjalan sendirian tanpa pedoman yang jelas mengenai batas dan tujuan. Di sinilah, rumusan-rumusan Khittah yang beberapa kali diperbarui dan diperjelas oleh Muktamar Muhammadiyah sepanjang waktu hadir sebagai jalur: bukan untuk membatasi gerak kader, tetapi untuk memastikan agar gerakan itu tetap selaras dengan misi utamanya, yaitu dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang progresif, bukan alat untuk kepentingan kelompok atau kekuasaan sementara.

 

Jalur ini sangat penting karena kader Muhammadiyah kini hidup di era yang jauh lebih riuh dibandingkan dengan masa para pendirinya. Godaan untuk membawa nama besar Muhammadiyah ke dalam politik praktis, ketegangan di media sosial, atau ambisi pribadi yang mengatasnamakan organisasi, jauh lebih besar dan lebih cepat menyebar dibandingkan satu abad yang lalu. Di sinilah pentingnya bimbingan yang aktif — bukan sekadar surat edaran atau panduan tertulis yang hanya dibiarkan di rak, tetapi teladan, pendampingan, dan pengawasan yang dilakukan secara bersama dari generasi ke generasi.

 

Warisan KH Ahmad Dahlan: Menuntun Sebelum Menuntut

 

Jika kita melihat ke awal, cara KH Ahmad Dahlan dalam membimbing murid-muridnya adalah bukti yang paling nyata bahwa “menuntun” selalu mendahului “menuntut”. Kyai Dahlan tidak pernah berdakwah hanya dari atas mimbar dengan memohon hasil instan. Ia terjun langsung: mengajarkan mengaji di rumahnya, mengajak murid-muridnya untuk berdiskusi, bahkan bersedia didebat dan ditolak berkali-kali sebelum akhirnya gagasannya diterima oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Ia membimbing murid-muridnya untuk memahami mengapa sebuah amal perlu dilakukan — bukan sekadar memerintahkan apa yang harus dilakukan.

 

Semangat inilah yang kemudian diwariskan menjadi ciri khas dalam kaderisasi Muhammadiyah: bukan sekadar indoktrinasi satu arah, tetapi pengembangan yang melibatkan akal, hati, dan teladan bersamaan. Dahlan lebih dikenal memberikan contoh daripada hanya berpidato. Dari sinilah lahir kader-kader awal yang kelak menjadi pilar organisasi, karena mereka dibimbing untuk memahami esensi perjuangan, bukan hanya dituntut untuk mengikuti instruksi.

 

Para Tokoh yang Menjaga Jalur Itu Tetap Lurus

Setelah kepergian Kyai Dahlan, proses penerusan ini tetap berjalan. KH Mas Mansyur, contohnya, dikenal sebagai sosok yang merumuskan pemikiran agama Muhammadiyah dengan lebih terstruktur, membimbing anggotanya untuk berpikir dengan jelas di tengah tantangan era kolonial dan pendudukan, sambil tetap berpegang pada prinsip tauhid dan kemandirian organisasi. Ki Bagus Hadikusumo menggambarkan bagaimana anggota harus memiliki keberanian dalam berpendirian sekaligus kebijaksanaan untuk menjaga organisasi agar tidak mudah tergelincir oleh kepentingan eksternal. Buya Hamka, dalam generasi selanjutnya, membimbing dengan contoh intelektual dan keteguhan moral — menunjukkan bahwa seorang kader Muhammadiyah dapat berperan secara luas di tingkat nasional tanpa mengabaikan identitas dan jalur perjuangan organisasinya.

 

Semua sosok ini memiliki satu titik kesamaan: mereka bukan hanya pemimpin yang meminta ketaatan, tetapi juga teladan yang menunjukkan bagaimana bersikap saat organisasi dihadapkan pada ujian, serta berusaha memastikan semangat pembaruan Muhammadiyah tidak terganggu oleh kepentingan sesaat. Mereka adalah penyebab mengapa Khittah muncul dan dipertahankan — karena pengalaman pahit dari penyimpangan dalam perjuangan telah benar-benar dirasakan oleh organisasi ini, dan mereka tidak ingin generasi mendatang mengulang kesalahan yang sama.

 

Kader Masa Kini: Antara Tantangan Zaman dan Arahan Khittah

 

Kader Muhammadiyah saat ini dihadapkan pada kondisi yang jauh lebih rumit: dunia digital, politik identitas, ekonomi yang memerlukan keahlian tinggi, serta godaan untuk mencapai popularitas secara cepat. Sangat wajar jika persyarikatan menginginkan kader yang memiliki kompetensi dan mampu beradaptasi. Namun, kompetensi tanpa tuntunan nilai dapat menghasilkan kader yang mahir tapi rentan, mahir dalam membangun jaringan, tetapi rentan saat dihadapkan pada godaan untuk menyalahgunakan reputasi Muhammadiyah demi kepentingan pribadi atau kelompok.

 

Oleh karena itu, sistem pelatihan kader Muhammadiyah — mulai dari Baitul Arqam, Darul Arqam, hingga pembinaan di Angkatan Muda Muhammadiyah — seharusnya tidak hanya fokus pada penyaluran pengetahuan organisasi. Ia harus menjadi wadah pembimbingan: tempat bagi kader muda untuk menyaksikan langsung keteladanan dari senior, memahami perjalanan sejarah organisasi, dan mengerti alasan di balik keberadaan Khittah, bukan sekadar menghafalnya sebagai teks normatif.

 

Penutup: Jalur yang Menjaga, Bukan Mengekang

 

Khittah bukanlah batasan yang membatasi kreativitas kader, melainkan jalur yang memastikan agar perjalanan organisasi tetap menuju tujuannya. Kereta yang melaju kencang tanpa jalur bukanlah tanda kemajuan, tetapi kecelakaan yang akan terjadi. Demikian pula halnya dengan kader yang hanya dituntut tanpa bimbingan: energinya besar, tetapi arah tujuannya rawan mengalami penyimpangan.

 

Jejak KH Ahmad Dahlan dan tokoh-tokoh awal Muhammadiyah mengajarkan satu hal penting yang sering terlupakan di tengah kesibukan berorganisasi saat ini: kepemimpinan yang sejati bukan hanya sekadar memberikan target, melainkan berjalan bersama, memberikan contoh, dan memastikan setiap langkah kader tetap berada di jalur perjuangan yang sama — jalur yang telah dibangun dengan pengorbanan yang panjang, dan oleh karena itu terlalu berharga untuk dilepaskan begitu saja.

 

Agam S – Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PDPM Temanggung

Komentar