Artikel

Harapan untuk Muhammadiyah ke Depan

5
×

Harapan untuk Muhammadiyah ke Depan

Sebarkan artikel ini

Harapan untuk Muhammadiyah ke Depan

Lebih dari satu abad sudah Muhammadiyah menapaki jalan dakwah dan tajdid di bumi Nusantara. Sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, persyarikatan ini telah tumbuh menjadi gerakan Islam berkemajuan yang tidak hanya membawa manfaat bagi jamaahnya sendiri, tetapi juga memberi kontribusi besar bagi bangsa dan negara, bahkan menembus batas-batas internasional. Ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial telah lahir dari rahim Muhammadiyah, menjadi saksi bahwa gerakan ini benar-benar mengejawantahkan semangat rahmat bagi semesta alam. Atas semua jasa dan keberkahan itu, sepatutnyalah setiap warga Muhammadiyah, generasi muda maupun tua, menaruh penghargaan dan penghormatan yang tulus kepada para pendiri dan pendahulu yang telah mewariskan amanah besar ini. Kini, Muhammadiyah tengah berada pada abad keduanya, tahun depan menyelenggarakan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang akan digelar di Medan, Sumatera Utara, pada November 2027, sebuah momentum yang oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir disebut sebagai penanda penting akselerasi gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan, khususnya dalam memasuki abad kedua perjalanannya.

Namun demikian, di tengah derasnya arus zaman digital yang serba cepat, canggih, dan transparan, Muhammadiyah tidak boleh kehilangan pijakan pada ajaran dasar Islam dan khittahnya sendiri. Kemajuan teknologi informasi memang membuka ruang dakwah yang luas, tetapi juga menghadirkan godaan pragmatisme dan pendangkalan spiritual. Karena itu, penguatan tauhid sebagai fondasi akidah, peneguhan ibadah para jamaah dan warga persyarikatan, serta penjunjungan akhlak mulia harus senantiasa menjadi arus utama yang dijaga tanpa kompromi. Hal ini menjadi semakin penting mengingat semakin banyak warga Muhammadiyah yang mendapat amanah di berbagai sektor kehidupan masyarakat termasuk ada beberapa sebagai pejabat dan petinggi negara; mereka semuanya tetap harus berupaya menjadi teladan integritas dan kejujuran di ruang publik, bukan sekadar simbol kebanggaan organisasi. Penguatan karakter ini paling efektif ditanamkan melalui basis-basis pengajian kultural di ranting-ranting, masjid, musala, hingga amal usaha Muhammadiyah (AUM), sebab dari akar rumput itulah nilai-nilai keislaman yang otentik tumbuh dan mengalir menjadi kekuatan moral bangsa.

Di atas fondasi akidah dan akhlak yang kokoh itu, Muhammadiyah juga dituntut untuk memperluas medan pengabdiannya. Selama ini dakwah, pendidikan, kesehatan, dan kerja-kerja sosial telah menjadi identitas utama Muhammadiyah, dan itu patut disyukuri. Akan tetapi, tantangan zaman menuntut lebih dari itu, yaitu penguatan sektor ekonomi riil menjadi keniscayaan yang tampaknya tidak dapat ditunda lagi. Dengan basis anggota dan amal usaha yang sedemikian besar, Muhammadiyah memiliki modal sosial dan kelembagaan yang sangat memadai untuk membangun kemandirian ekonomi umat, membuka lapangan kerja seluas-luasnya, dan menjadi kekuatan penyeimbang dalam struktur ekonomi nasional. Ekonomi yang kuat bukan sekadar penunjang dakwah, melainkan bagian integral dari misi meninggikan kalimat Allah melalui kesejahteraan umat yang nyata dan berkeadilan.

Cita-cita besar semacam itu hanya dapat terwujud bila Muhammadiyah membenahi sistem kerjanya menjadi lebih maju, profesional, dan modern. Program-program kerja yang disusun ke depan tidak cukup bersifat reaktif, melainkan harus futuristik dan antisipatif terhadap dinamika global maupun regional baik menyangkut pergolakan politik, ketidakpastian ekonomi dunia, maupun tantangan dakwah dan pemikiran keislaman di tengah arus globalisasi. Muktamar ke-49 sendiri, sebagaimana disampaikan kalangan panitia penyelenggara di Sumatera Utara, dipersiapkan bukan sekadar sebagai forum permusyawaratan internal lima tahunan, melainkan sebagai momentum konsolidasi ideologi, evaluasi gerakan, penguatan kaderisasi, sekaligus perumusan arah masa depan persyarikatan, juga sebagai ruang perjumpaan Muhammadiyah dengan bangsa dan dunia. Sistem kerja yang tangguh dan berorientasi jangka panjang inilah yang akan menentukan apakah Muhammadiyah mampu tetap relevan sebagai kekuatan pembaru di tengah percaturan dunia yang terus berubah.

Pada akhirnya, seluruh harapan tersebut bermuara pada satu titik penting tentang kepemimpinan Muhammadiyah ke depan, kepemimpinan dari level pusat hingga ranting sebagai ujung tombak yang bersentuhan langsung dengan umat. Di tingkat Pusat, diperlukan pucuk pimpinan yang terdiri atas para ulama yang faqih dalam ajaran Islam serta para cendekiawan lintas disiplin ilmu yang mampu merumuskan arah gerakan dan menjawab kompleksitas persoalan bangsa maupun dunia. Namun kekuatan itu tidak akan bermakna banyak bila tidak diteruskan secara konsisten ke Wilayah dan Daerah sebagai penerjemah kebijakan Pusat ke konteks lokal, ke Cabang sebagai penggerak jamaah di tingkat kecamatan, hingga ke Ranting yang menjadi basis paling dasar tempat dakwah kultural, pengajian, dan pembinaan akhlak benar-benar bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari warga. Pada setiap jenjang itu pula, komposisi kepemimpinan perlu memadukan unsur sepuh dan muda secara harmonis, agar kaderisasi berjalan mulus dan berkelanjutan dari Pusat sampai Ranting, tanpa terputus, sehingga estafet kepemimpinan dapat diwariskan tanpa kehilangan ruh perjuangan yang telah dirintis sejak awal. Dengan kepemimpinan yang faqih, cerdas, dan bijak di seluruh jenjang struktur tersebut, insya Allah Muhammadiyah akan mampu melangkah di abad keduanya dengan lebih kokoh, tetap istiqamah pada tauhid dan akhlak mulia, namun juga tangkas menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan global. Semoga Muktamar ke-49 di Sumatera Utara benar-benar menjadi mercusuar keteladanan bagi bangsa, sebagaimana harapan yang telah lama disematkan pada gerakan ini, dan menjadi babak baru yang membawa Muhammadiyah semakin dekat pada cita-citanya, kejayaan Islam dan kaum muslimin, terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dalam bingkai Indonesia yang adil, makmur, penuh maghfirah dan sejahtera.

(Makmun Pitoyo)

Komentar