Artikel

Pimpinan Muhammadiyah Ranting & Cabang, Saatnya Libatkan Anak Muda

1
×

Pimpinan Muhammadiyah Ranting & Cabang, Saatnya Libatkan Anak Muda

Sebarkan artikel ini

Pimpinan Muhammadiyah Ranting & Cabang, Saatnya Libatkan Anak Muda

Dalam perhelatan Cabang Ranting Masjid (CRM) Unggulan Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 di PRM Blimbingrejo Nalumsari Jepara, disampaikan oleh Lembaga Pembinaan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, bahwa tantangan saat ini relatif banyak dan beragam. Maka Muhammadiyah harus mengubah strateginya dalam menngembangkan dakwah. Antara lain “Menggerakkan Anak Muda, Menguatkan Jama’ah”.

Bahkan salah satu pertanyaan yang diajukan oleh Ketua LPCR PWM Jateng, Prof. Dr. Suwarno kepada para finalis Cabang unggulan adalah : “Seberapa besar anak muda menjadi pimpinan di cabang Muhammadiyah saudara?”.  Menandakan bahwa memang peran strategis anak muda sudah mulai harus diperhitungkan dan dipertimbangkan.

ANAK MUDA ADALAH KUNCI KEMAJUAN
Tak bisa ditolak, bahwa kita butuh anak muda saat ini dan di masa yang akan datang dalam upaya mengembangkan dakwah Islam dibawah Persyarikatan Muhammadiyah.  Karena anak muda memiliki peran strategis sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna amal usaha serta cita-cita dakwah di Persyarikatan Muhammadiyah. Sejak awal berdirinya, KH. Ahmad Dahlan menaruh kepercayaan besar pada angkatan muda untuk menggerakkan pembaharuan sosial dan keagamaan.

Kalau melihat sejarah awal berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dalam menginisiasi pergerakan dakwah, selalu melibatkan anak anak muda dalam pergerakannya. Lihatlah film “Sang Pencerah”, akan kita lihat betapa anak anak muda mewarnai perjuangan KH Ahmad Dahlan.  Misal masa mudanya : KH Sudja, KH Fakhruddin,  KH Sangidoe, KH Hisyam, KH Hadjid, dll. Yang di kemudian hari, mereka para santri tersebut menjadi pejuang dakwah hebat dalam Muhammadiyah.

Paling tidak ada 5 Peran Strategis Anak Muda Muhammadiyah yang mewarnai Pergerakan Muhammadiyah kedepannya
1. Kaderisasi dan Regenerasi Leadership
Anak muda adalah jaminan keberlangsungan persyarikatan.
Setelah anak muda aktif dan bergerak Melalui wadah Organisasi Otonom (Ortom) muda, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Tapak Suci, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, dan diharapkan lahir pimpinan yang memahami prinsip ideologi Muhammadiyah sekaligus siap merespons dinamika zaman. Maka setelah mereka tidak di Ortom tersebut harus segera kita  wadahi mereka menjadi pimpinan di Muhammadiyah tingkat ranting dan cabang. Karena butuh energi mereka dalam pergerakan dakwah.
2. Inovasi Dakwah Digital dan Kemajuan.
Generasi muda membawa pendekatan baru dalam dakwah Islam Berkemajuan—mulai dari literasi media, pemanfaatan teknologi, sains, hingga aksi kemanusiaan global agar tetap relevan dengan generasi milenial dan Gen Z.  Dimana anak anak muda saat ini lebih hebat dan pandai dari orang yang sudah tua dalam membaca peluang dan adaptasi dengan perubahan zaman yang demikian cepat.
3. Penggerak Amal Usaha (AUM).
Anak muda bisa berperan aktif dengan potensi dan semangat mereka mengelola dan memperluas jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, serta kewirausahaan agar Muhammadiyah terus memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas.
4. Anak Benteng Nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)
Di tengah arus globalisasi, anak muda menjadi garda depan dalam menjaga paham keagamaan yang moderat (wasathiyah), rasional, dan mencerahkan.
5. Penggerak orang orang yang setara usia, dan di bawahnya.
Anak mudalah yang tahu selera sepantaran dengannya, trend-trend  di media sosial, dan yang lainnya yang bersifat kekinian. Termasuk tantangan di masa depan. Sehingga keterlibatan mereka dalam pergerakan dakwah Muhammadiyah akan menjadi penyeimbang yang bisa diandalkan dan menjanjikan kemajuan sesuai zamannya.

PORSI SEIMBANG MUDA DAN TUA MENJADI PIMPINAN
Diberikannya kesempatan kepada anak muda, tidak berarti “membuang” orang yang sudah tua, akan tetapi kita tetap memberikan kesempatan kepada mereka juga, bagaimanapun mereka yang sudah tua telah memberikan andil besar dalam perjuangan dan perkembangan dakwah Muhammadiyah.  Akan tetapi bisa dibagi porsi seimbang antara anak muda dan yang sudah tua. Misal 50% anak muda, 50% orang tua.
Dr. Encep Saepudin , M.Si. dari LPCR PWM Jateng ketika melakukan visitasi penilaian lomba Cabang Unggulan 2024 di PCM Ngadirejo menyampaikan bahwa, kebanyakan orang tua yang menjadi pimpinan di Muhammadiyah seperti memiliki kecenderungan “mengerem” alias bermain aman aman saja, sehingga pergerakan dan inovasi sangat kurang.  Sedangkan anak muda jika menjadi Pimpinan persyarikatan, cenderung seperti memiliki semangat “Ngegas”, sehingga bawaanya adalah terus bergerak, inovasi, dan kreatif dalam pergerakannya.  Maka kalau porsi seimbang antara yang tua dan muda menjadi pimpinan di Muhammadiyah, jika terlalu cepat bisa ada yang ngerem, terlalu lambat ada yang ngegas.

Dalam susunan pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngadirejo, dari 9  pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah yang ada 2 diantaranya diisi oleh mantan ketua Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Ngadirejo, yang diberikan kesempatan luas oleh pimpinan yang sudah tua untuk bergerak dan berupaya secara kreatif dan inovatif mengembangkan dakwah Muhammadiyah di Ngadirejo, maka lahirlah banyak progam yang “Out of the Box”, antara lain :
1. Adanya program Relawan Bersih Bersih Masjid ( BBM) yang sudah 7 tahun berjalan sejak 2019
2. Hari Ber-Muhammadiyah Ngadirejo yang dijalankan tiap selapan sekali ,Ahad Pahing. Sudah mau masuk tahun keempat, sebanyak 29 putaran
3. Program Sedekah Beras & Beras Darurat
4. Program Sedekah Jumat Berkah untuk khatib, Muadzin, dan marbot masjid
5. Mobil dakwah Muhammadiyah Ngadirejo, yang kemudian beberapa cabang terinspirasi memiliki mobil dakwah atau mobil layanan umat
6. Berdirinya Team Nasyid Mentari Voice KMM Ngadirejo
7. Korps Muballigh Muhammadiyah Ngadirejo yang sangat aktif mengisi kajian dan khotbah Jum’at di Masjid Muhammadiyah dan luar Muhammadiyah Ngadirejo
8. Dan program kreatif dan inovatif lainnya.

Di program tersebut, nyaris semuanya melibatkan anak muda, dari remaja hingga pemuda.

Buya Hamka berkata dalam Buku Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” :
“Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang.”

Begitulah semangat anak muda yang harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk ikut memajukan dakwah Islam dibawah Persyarikatan Muhammadiyah.
Wallahu a’lam bish shawab.

Rofi’i, S.Pd.
Sekretaris PCM Ngadirejo
Mahasiswa Pascasarjana Institut Ahmad Dahlan Probolinggo

Komentar