Blog

Menakar Relevansi Muhammadiyah bagi Generasi Digital

74
×

Menakar Relevansi Muhammadiyah bagi Generasi Digital

Sebarkan artikel ini

Menakar Relevansi Muhammadiyah bagi Generasi Digital

 

Kita saat ini berada di tengah pusaran peradaban yang bernama Society 5.0. Jika era sebelumnya hanya berfokus pada kecanggihan teknologi dan otomatisasi, Society 5.0 mengembalikan manusia sebagai tokoh utamanya. Teknologi, kecerdasan buatan, hingga integrasi data dituntut untuk bisa memecahkan berbagai masalah sosial yang nyata. Di tengah lompatan peradaban ini, muncul sebuah pertanyaan menarik: bagaimana institusi agama menempatkan diri agar tidak ditinggalkan oleh generasi mudanya?

Bagi anak muda yang lahir dan besar di ekosistem digital (Generasi Z), cara pandang terhadap agama perlahan bergeser. Agama tidak lagi dipandang sebatas kumpulan aturan kaku atau ritual yang berjarak dari realitas sehari-hari. Generasi yang kritis ini membutuhkan panduan spiritual yang masuk akal, menghargai ilmu pengetahuan, dan yang paling penting, bisa memberikan solusi nyata atas masalah-masalah masa kini. Di titik inilah, Muhammadiyah dengan visi Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan tampil sebagai organisasi yang sangat relevan.

Apa yang membuat Muhammadiyah begitu mudah diterima oleh anak muda digital? Jawabannya ada pada pendekatan yang rasional. Generasi masa kini terbiasa dengan sistem yang berjalan efisien, terukur, dan memberikan kepastian. Pendekatan ini ternyata sejalan dengan cara Muhammadiyah dalam beragama.

Sebuah survei menunjukkan bahwa mayoritas anak muda (mencapai 89%) menganggap cara beragama Muhammadiyah itu simpel, rasional, dan sama sekali tidak kaku. Contoh paling nyata adalah penggunaan metode astronomi modern (hisab) dalam menentukan hari-hari besar kalender Hijriah. Muhammadiyah tidak ragu memadukan teks agama dengan ilmu pengetahuan. Hasilnya, ketidakpastian bisa dihindari, dan masyarakat bisa merencanakan agenda jauh-jauh hari. Cara berpikir cerdas dan moderat semacam ini—tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri—sangat cocok dengan karakter anak muda yang kritis dan logis.

Dengan jaringan sekolah, kampus, panti asuhan, hingga rumah sakit yang tersebar di seluruh pelosok, Muhammadiyah membuktikan bahwa pelayanan publik bisa dikelola dengan sistem yang profesional dan mandiri. Hal ini menumbuhkan kepercayaan yang tinggi. Bahkan, 82,6% anak muda menilai tokoh-tokoh berlatar belakang Muhammadiyah memiliki kinerja yang sangat baik dan membawa dampak positif bagi masyarakat luas. Ini membuktikan bahwa Muhammadiyah berhasil menghadirkan agama sebagai institusi pelayanan yang tangguh, bukan sekadar ruang perdebatan teori.

Bukti paling nyata dari keberhasilan Muhammadiyah hari ini adalah wujud inklusivitasnya. Nilai-nilai Islam Berkemajuan yang diusung ternyata mampu menembus batas-batas identitas kelompok. Hal ini sejalan dengan semangat kosmopolitanisme, di mana Muhammadiyah menjadi rumah bersama bagi siapa saja yang menginginkan pencerahan.

Tingginya antusiasme ini bahkan melahirkan fenomena di media sosial yang sering disebut “Login Muhammadiyah”. Menariknya, 46,5% anak muda yang mengapresiasi kiprah organisasi ini bukanlah kader internal Muhammadiyah. Mereka menaruh rasa hormat karena melihat konsistensi Muhammadiyah dalam memperjuangkan keadilan sosial, pendidikan, dan moderasi beragama. Angka 91% anak muda yang merasa bangga terhadap organisasi ini menjadi bukti bahwa nilai kemanusiaan dan kemajuan adalah bahasa universal yang bisa diterima semua kalangan.

Kesimpulan

Menghadapi era Society 5.0 memang membutuhkan keseimbangan antara kecepatan teknologi dan kedalaman tata nilai moral. Muhammadiyah secara elegan mampu menawarkan keseimbangan tersebut. Melalui pendekatan Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memberikan ruang bagi generasi digital untuk tetap menjadi pribadi yang rasional, kritis, dan berorientasi ke depan, tanpa harus kehilangan pijakan spiritualnya.

Bagi generasi muda saat ini, Muhammadiyah adalah bukti bahwa agama dapat terus hidup dan relevan menembus zaman. Dengan memadukan rasionalitas pemikiran, adaptasi digital, dan kerja kemanusiaan yang nyata, Muhammadiyah tidak sekadar merespons perubahan peradaban, tetapi ikut merancang masa depan yang jauh lebih mencerahkan.

 

Oleh Muhamad Istajib

Komentar