Blog

Sejarah Berdirinya RS PKU Muhammadiyah Parakan Jejak Wakaf, Keteladanan, dan Keteguhan Ibu Hj. Surtinah

276
×

Sejarah Berdirinya RS PKU Muhammadiyah Parakan Jejak Wakaf, Keteladanan, dan Keteguhan Ibu Hj. Surtinah

Sebarkan artikel ini

Sejarah Berdirinya RS PKU Muhammadiyah Parakan

Jejak Wakaf, Keteladanan, dan Keteguhan Ibu Hj. Surtinah

PARAKAN – Sejarah berdirinya RS PKU Muhammadiyah Parakan tidak dapat dilepaskan dari keteladanan dan keikhlasan sepasang suami istri dermawan, almarhum H. Tukijo dan Hj. Surtinah. Berawal dari sebuah niat mulia dan semangat pengabdian, rumah sakit ini tumbuh menjadi salah satu amal usaha Muhammadiyah yang memberi manfaat luas bagi masyarakat Temanggung dan sekitarnya.

Peristiwa bersejarah itu terjadi pada Rabu siang, sekitar pukul 11.00 WIB, di halaman Masjid Al Ashri Muhammadiyah Cabang Parakan. Disaksikan oleh keluarga besar Muhammadiyah dan para anggota ‘Aisyiyah dari Cabang Ngadirejo, Parakan, dan Kedu, H. Tukijo dan Hj. Surtinah bersama sembilan orang putra-putrinya mewakafkan tanah seluas 500 meter persegi. Wakaf tersebut diniatkan untuk pembangunan Rumah Sakit Bersalin Islam, mengingat pada masa itu Kabupaten Temanggung belum memiliki rumah sakit berbasis Islam.

Sosok Hj. Surtinah dan Cita-cita Mulianya

Hj. Surtinah dikenal sebagai Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Parakan yang memiliki pandangan maju, disiplin, dan berjiwa pengabdian tinggi. Mantan perawat pada masa penjajahan Belanda ini tidak hanya menyampaikan cita-cita melalui lisan, tetapi membuktikannya dengan pengorbanan harta dan tenaga. Sikapnya yang “loma” atau dermawan menjadi inspirasi bagi warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Parakan.

Sebelum gagasan rumah sakit terwujud, Hj. Surtinah telah lebih dahulu merintis amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, yakni pendirian TK Murni I sekitar tahun 1952.

Perjuangan Panjang Mewujudkan Rumah Sakit

Tanah wakaf seluas 500 meter persegi tersebut sempat terbengkalai hampir empat tahun. Masih berupa sawah, di atasnya hanya tertancap papan bertuliskan “Calon RS Islam”. Banyak warga yang membaca tulisan itu sambil berdoa, berharap cita-cita tersebut benar-benar terwujud.

Kesadaran kolektif mulai tumbuh setelah berbagai pengajian dan musyawarah digelar. Salah satunya pengajian akbar di Sukorejo yang menggugah semangat berzakat, berinfak, dan bersedekah demi tegaknya agama Allah. Dari situlah dukungan moral dan material terus mengalir.

Pada 13 Juni 1981, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) bersama PCM Parakan, Kedu, dan Ngadirejo membentuk Panitia Pembangunan Rumah Sakit Bersalin. Panitia ini terdiri dari 25 orang, melibatkan unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Sebagai langkah awal, pembangunan pondasi dilakukan secara gotong royong. Tepat pada 10 Dzulhijah 1401 H (1981), sekitar 400 relawan dari Parakan dan sekitarnya bergotong royong menggali pondasi. Dalam waktu kurang dari tiga jam, pondasi dan ruang-ruang dasar berhasil diselesaikan. Peletakan batu pertama dilakukan oleh PDM Temanggung, Ikhwan Sastrodiharjo.

Dari Bangunan Terbengkalai hingga Balai Kesehatan Masyarakat

Pembangunan gedung berlangsung lambat akibat keterbatasan dana. Selama hampir tujuh tahun, bangunan baru mencapai sekitar 70 persen dan sempat terbengkalai. Material bangunan menumpuk, bahkan dipenuhi sarang burung. Namun, semangat tidak pernah padam.

Bantuan demi bantuan datang, termasuk dari dr. Barit dari Yogyakarta yang menyumbang lantai ubin untuk seluruh bangunan. Doa warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus mengiringi agar niat awal mendirikan Rumah Sakit Bersalin dapat terwujud.

Akhirnya, diputuskan gedung tersebut difungsikan sebagai Balai Kesehatan Masyarakat (BKM) PKU Muhammadiyah. Kepengurusan BKM ditetapkan pada 5 Mei 1989 dengan melibatkan RS PKU Muhammadiyah Temanggung dan RS Roemani Muhammadiyah Semarang.

Peresmian dan Operasional Awal

Dengan segala keterbatasan sarana, perlengkapan medis, dan tenaga kesehatan, BKM PKU Muhammadiyah Parakan resmi dibuka pada 12 Oktober 1989. Peresmian dilakukan oleh Bupati Temanggung yang diwakili Wedono Parakan, Dul Mu’ti.

Operasional awal dijalankan dengan penuh kesederhanaan. Modal awal diperoleh dari pinjaman RS Roemani sebesar Rp7.000.000 dan dukungan para donatur dari Cabang Parakan, Ngadirejo, dan Kedu. Selama kurang lebih empat tahun, donasi inilah yang menjadi penopang utama operasional BKM.

Direktur pertama BKM adalah dr. Noerhadi yang dikenal berdedikasi tinggi. Selain memimpin rumah sakit, beliau aktif berdakwah dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan Islam.

Warisan Abadi untuk Umat

Seiring waktu, Balai Kesehatan Masyarakat berkembang menjadi RS PKU Muhammadiyah Parakan yang kini berdiri megah di jalur strategis Parakan–Kedu. Perkembangan ini menjadi bukti bahwa keikhlasan, ketekunan, dan semangat gotong royong mampu melahirkan amal jariyah yang manfaatnya lintas generasi.

Tidak berlebihan jika Hj. Surtinah dikenang sebagai penggagas utama berdirinya RS PKU Muhammadiyah Parakan. Dari wakaf tanah seluas 500 meter persegi pada 1981, kini rumah sakit tersebut berkembang menjadi kompleks pelayanan kesehatan modern yang melayani ribuan pasien.

Sebagaimana dicatat dalam sejarah, tanpa ketulusan niat dan keberanian penggalih Hj. Surtinah dan H. Tukijo, RS PKU Muhammadiyah Parakan mungkin tidak akan pernah lahir.


Sumber:
Catatan harian almarhumah Ibu Hj. Aisyah (istri Bp. Ibnu Parakan), pengusaha Bolu Biru dan pengurus ‘Aisyiyah Cabang Parakan serta anggota MPKU RS PKU Muhammadiyah Temanggung hingga 2008.

Komentar