Blog

MUHAMMADIYAH DAN KALENDER HIJRIYAH GLOBAL TUNGGAL: IKHTIAR ILMIAH MENUJU PERSATUAN UMAT

147
×

MUHAMMADIYAH DAN KALENDER HIJRIYAH GLOBAL TUNGGAL: IKHTIAR ILMIAH MENUJU PERSATUAN UMAT

Sebarkan artikel ini

MUHAMMADIYAH DAN KALENDER HIJRIYAH GLOBAL TUNGGAL: IKHTIAR ILMIAH MENUJU PERSATUAN UMAT

Oleh: Firman Santoso, M.Pd.
Kepala MI Muhammadiyah Danurejo

 

Muhammadiyah menetapkan penggunaan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) sebagai bagian dari ijtihad kolektif untuk menghadirkan sistem penanggalan Islam yang lebih ilmiah, konsisten, dan menyatukan umat. Langkah ini bukan sekadar perbedaan teknis, tetapi merupakan pilihan metodologis yang argumentatif dan berlandaskan ilmu serta visi persatuan. Berikut beberapa alasannya:

1. Perkembangan Ilmu Astronomi yang Semakin Canggih

Perkembangan ilmu astronomi modern menunjukkan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Dalam perhitungan gerhana matahari dan bulan, para astronom mampu memprediksi waktu kejadian hingga menit bahkan detik secara presisi. Ketepatan ini bukan sekadar teori, tetapi terbukti secara empiris dan berulang kali terkonfirmasi.
Jika perhitungan gerhana saja bisa sedemikian akurat, maka perhitungan posisi hilal sebagai dasar penentuan awal bulan hijriyah tentu lebih dari cukup untuk dijadikan pedoman. KHGT memanfaatkan kemajuan sains ini sebagai bentuk integrasi antara dalil syar’i dan kemajuan ilmu pengetahuan, sehingga kalender Islam dapat disusun jauh hari ke depan dengan kepastian yang sama seperti kalender Masehi.

2. Konsistensi Logika Kriteria Derajat

Dalam perdebatan kriteria visibilitas hilal, sering muncul batas minimal tertentu, misalnya 3 derajat. Namun jika satu wilayah telah memenuhi kriteria global sementara wilayah lain belum, lalu ditambah satu hari, maka muncul pertanyaan logis: wilayah yang sudah mencapai 3 derajat itu masuk tanggal berapa dan bulan apa?
KHGT menawarkan konsistensi sistemik: satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Dengan demikian, tidak ada kebingungan tanggal yang berbeda dalam satu momentum ibadah global seperti Ramadan, Idulfitri, atau Iduladha. Sistem global ini menghindarkan kerancuan akibat perbedaan batas derajat yang bersifat lokal.

3. Soal Ketaatan kepada Pemerintah

Sebagian berpendapat bahwa demi persatuan nasional harus mengikuti keputusan pemerintah. Namun perlu dipahami bahwa dalam penetapan awal bulan hijriyah, pemerintah memberikan opsi dan hasil sidang isbat, bukan kewajiban hukum yang mengikat seperti pajak atau peraturan perundang-undangan.
Ketaatan kepada pemerintah memang prinsip penting, tetapi dalam ranah ijtihad keagamaan yang bersifat metodologis, ruang perbedaan tetap diakui. Muhammadiyah tetap menghormati keputusan pemerintah, namun menjalankan hasil ijtihad organisasinya berdasarkan manhaj yang diyakini.

4. Perubahan Butuh Waktu: Belajar dari Sejarah

Setiap pembaruan pemikiran memerlukan proses panjang untuk diterima masyarakat. Ketika Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat berdasarkan perhitungan astronomi pada awal abad ke-20, beliau sempat mendapat penolakan. Namun seiring waktu dan pembuktian ilmiah, pandangan tersebut diterima luas—bahkan menjadi standar umum hingga kini.
Demikian pula KHGT, mungkin memerlukan puluhan tahun untuk diterima secara luas. Namun sejarah menunjukkan bahwa gagasan yang berlandaskan ilmu, konsistensi metodologi, dan kemaslahatan umat pada akhirnya akan menemukan tempatnya.

Penutup

Penggunaan Kalender Hijriyah Global Tunggal oleh Muhammadiyah adalah ikhtiar untuk menghadirkan sistem penanggalan Islam yang ilmiah, konsisten, dan berorientasi pada persatuan global umat. Perbedaan bukanlah perpecahan, melainkan bagian dari dinamika ijtihad. Sejarah telah membuktikan bahwa pembaruan yang berdasar ilmu dan kesungguhan akan menemukan legitimasi sosialnya pada waktunya.

Komentar