Opini

Mengembalikan Jiwa Al-Ma’un: Saatnya Muhammadiyah Menengok Kembali Arah Gerakannya

265
×

Mengembalikan Jiwa Al-Ma’un: Saatnya Muhammadiyah Menengok Kembali Arah Gerakannya

Sebarkan artikel ini
Mengembalikan Jiwa Al-Ma’un: Saatnya Muhammadiyah Menengok Kembali Arah Gerakannya

Refleksi dari pemikiran Ikhwanushoffa

Saya berpikir, di tengah arus modernisasi dan kompleksitas kehidupan umat, muncul satu pertanyaan yang menohok nurani dari pembicara pelatihan kemuhammadiyahan sore ini, Eksekutif Lazismu Sragen, Bapak Ikhwanushoffa:

> “Dulu Muhammadiyah belum kaya, tapi sanggup mendirikan sekolah dan rumah sakit untuk kaum dhuafa secara gratis. Sekarang Muhammadiyah sudah kaya, tapi apakah masih menggratiskan masyarakat miskin?”

 

Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun sesungguhnya menyentuh inti persoalan gerakan umat hari ini. Muhammadiyah yang dahulu lahir dari kesederhanaan, kini tumbuh menjadi organisasi besar dengan aset luar biasa. Namun di tengah keberlimpahan itu, masihkah ruh Al-Ma’un — ruh kepedulian dan pembelaan terhadap kaum lemah — hidup dan berdenyut dalam amal usaha yang kita banggakan?

Ruh Al-Ma’un: Dari Ayat ke Aksi

Surah Al-Ma’un bukan sekadar ayat yang dibaca dalam salat, melainkan seruan untuk menegakkan keadilan sosial yang konkret.
KH. Ahmad Dahlan memaknai ayat itu bukan dengan ceramah panjang, tetapi dengan mendirikan sekolah bagi anak yatim dan rumah sakit bagi fakir miskin.
Itulah tafsir hidup dari “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Namun kini, tafsir itu kerap bergeser menjadi slogan. Al-Ma’un tinggal nama di papan lembaga, bukan napas dalam kerja keseharian.
Ikhwanushoffa mengingatkan, bahwa profesionalisme yang dibangun di atas asas bisnis tanpa ruh kemanusiaan hanya akan menjadikan amal usaha Muhammadiyah sebagai “korporasi berlabel dakwah,” bukan “dakwah yang menghidupi umat.”

Profesionalisme yang Berjiwa Amal

Profesionalisme adalah tuntutan zaman. Tidak ada salahnya rumah sakit atau sekolah Muhammadiyah dikelola secara modern dan mandiri. Namun yang perlu diwaspadai, jangan sampai profesionalisme justru membunuh nilai amal.

> “Sekarang banyak guru atau tenaga amal usaha belum digaji dengan layak, dengan alasan pekerjaan mereka adalah bagian dari amal. Tapi apakah adil jika profesionalisme hanya dituntut ke atas, sementara kesejahteraan dibiarkan ke bawah?” kata Ikhwanushoffa dalam pelatihannya.

 

Inilah paradoks yang harus direnungkan bersama. Islam tidak pernah memisahkan antara idealisme dan kesejahteraan. Justru dengan keadilan bagi para pelaku amal, ruh Al-Ma’un dapat terjaga — karena mereka yang berjuang di dalamnya tidak hanya bekerja, tetapi juga hidup dengan martabat.

“Stop Urunan Bangun Masjid, Mari Urunan Buka Pekerjaan”

Salah satu kutipan paling menggugah dari Ikhwanushoffa adalah:

> “Stop urunan untuk membuat masjid, mari urunan untuk membuka pekerjaan.”

 

Kalimat itu bukan menolak pembangunan masjid, melainkan menantang paradigma lama: bahwa dakwah bukan hanya soal tempat ibadah, tapi tentang menghidupkan jamaah.
Masjid yang ramai salat tapi lingkungannya penuh pengangguran, belum sempurna mencerminkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Di sinilah pentingnya ikhtiar dakwah di bidang ekonomi dan digital — membangun sistem yang memberi kesempatan kerja, memberdayakan potensi umat, dan menghidupkan kembali semangat kemandirian. Itulah bentuk baru dari Al-Ma’un abad ke-21.

Kaya Secara Aset, Miskin Secara Jiwa

Kini Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi besar, kuat, dan berpengaruh. Namun refleksi Ikhwanushoffa mengingatkan agar kekayaan jangan sampai membuat kita miskin jiwa.
Kekayaan seharusnya memperluas manfaat, bukan memperlebar jarak antara lembaga dan umat.
Sebab, Al-Ma’un tidak pernah bicara tentang neraca keuangan, melainkan tentang hati yang peka terhadap penderitaan.

 

Penutup: Kembali Menjadi Gerakan Rahmah

Refleksi ini menegaskan, bahwa jiwa Al-Ma’un bukan sekadar program sosial, melainkan jiwa dari seluruh gerak Muhammadiyah.
Ketika amal usaha menjadi tempat berlindung bagi yang lemah, ketika tenaga pendidik dan dakwah dihargai dengan layak, ketika urunan umat diarahkan untuk membuka pintu rezeki bagi sesama — maka di sanalah Islam berwajah rahmah kembali bersinar.

Muhammadiyah tidak kehilangan arah, hanya perlu menengok ke cermin sejarahnya sendiri.
Karena sejatinya, sebagaimana diingatkan Ikhwanushoffa,

> “Dulu kita miskin tapi banyak memberi. Jangan sampai sekarang kita kaya, tapi pelit memberi hidup.”

Nur Rochmad Adi Nugroho (Rama)

PRM Giyanti Mungseng Purworejo
1-11-2025

Komentar