Menggali Hakikat, Niat, dan Tujuan Idul Qurban Bersama Ustadz Drs. H. Makmun Pitoyo, M.Pd. dalam Pengajian Ahad Pagi PCM Kandangan
KANDANGAN, TEMANGGUNG – Menyambut datangnya bulan Zulhijah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kandangan kembali menggelar agenda rutin Pengajian Ahad Pagi. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 24 Mei 2026 ini bertempat di Masjid Nurul Iman Punduhan, Kandangan. Dimulai sejak pukul 06.00 hingga 07.00 WIB, pengajian kali ini menghadirkan pembicara utama, Ustadz Drs. H. Makmun Pitoyo, M.Pd., yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Temanggung.
Antusiasme warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar tampak begitu besar. Terbukti, ruang utama hingga serambi Masjid Nurul Iman dipadati oleh sekitar 200-an jamaah yang hadir dengan khidmat untuk menuntut ilmu. Memasuki bulan suci yang sarat akan makna pengorbanan, tema yang diangkat dalam kajian kali ini berfokus pada “Mengupas Tuntas Idul Qurban: Hakikat, Niat, dan Tujuannya bagi Umat Muslim.”
Hakikat Qurban: Lebih dari Sekadar Ritual Penyembelihan
Dalam tausiyahnya, Ustadz Makmun Pitoyo menekankan bahwa ibadah qurban yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Zulhijah hingga hari-hari Tasyrik bukanlah sekadar ritual tahunan memotong hewan ternak dan membagikan dagingnya. Lebih dalam dari itu, hakikat qurban adalah simbol ketundukan total seorang hamba kepada penciptanya, meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS.
“Hakikat dari udhhiyah atau qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kata qurban sendiri berasal dari kata qaruba yang berarti dekat. Jadi, esensinya adalah sejauh mana hewan yang kita sembelih mampu mengikis ego, sifat kikir, dan kecintaan berlebih kita pada dunia, sehingga kita bisa semakin dekat dengan Allah,” ujar Ketua PDM Temanggung tersebut di hadapan ratusan jamaah.
Beliau juga menambahkan bahwa Allah tidak melihat rupa, ukuran, atau harga dari hewan yang dikorbankan, melainkan ketakwaan yang ada di dalam hati orang yang berkurban. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa daging dan darah hewan qurban tidak akan mencapai Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nyalah yang sampai kepada-Nya.

Meluruskan Niat: Hanya Mengarap Ridha Allah
Melanjutkan materinya, Ustadz Makmun Pitoyo mengingatkan pentingnya menjaga kesucian niat dalam berqurban. Di era modern dan digital saat ini, tantangan menjaga keikhlasan hati menjadi semakin berat. Ada kalanya terselip rasa ingin dipuji, dianggap mampu, atau motif-motif sosial-politik tertentu di balik hewan qurban yang berukuran besar.
“Niat adalah roh dari setiap amal perbuatan. Ibadah qurban harus didasari oleh niat yang murni: lillahi ta’ala, hanya mengharap ridha Allah SWT,” tegas beliau.
Beliau mengajak 200-an jamaah yang hadir untuk membersihkan hati dari penyakit riya’ (pamer) dan sum’ah (ingin didengar kebaikannya). Berqurban harus lahir dari rasa syukur atas limpahan nikmat yang telah diberikan Allah, bukan sebagai ajang persaingan gengsi di tengah masyarakat. Niat yang lurus inilah yang akan membedakan antara ibadah yang bernilai pahala besar dengan penyembelihan hewan biasa yang sia-sia di mata agama.
Tujuan Mulia: Kesalehan Ritual dan Kepedulian Sosial
Lebih lanjut, pengajian subuh ini mengupas tuntas mengenai tujuan ganda dari ibadah Idul Qurban, yakni dimensi vertikal (hablum minallah) dan dimensi horizontal (hablum minannas).
Secara vertikal, tujuan qurban adalah menguji keimanan dan membentuk kesalehan pribadi. Sementara secara horizontal, qurban mengemban misi sosial yang luar biasa. Ibadah ini menjadi jembatan pemerataan kesejahteraan, di mana kaum dhuafa dan fakir miskin dapat ikut merasakan kebahagiaan menikmati hidangan daging yang mungkin jarang mereka temui di hari-hari biasa.
“Qurban mengajarkan kita kesalehan sosial. Islam tidak ingin umatnya saleh sendirian di dalam masjid, sementara tetangganya kelaparan. Melalui pembagian daging qurban, sekat-sekat sosial dilebur, memupuk rasa persaudaraan (ukhuwah Islamiyah), dan menumbuhkan empati antar-sesama warga,” terang Ustadz Makmun.
Penutup dan Antusiasme Jamaah
Pengajian rutin yang dipelopori oleh PCM Kandangan ini berlangsung interaktif dan penuh kekeluargaan. Media sosial resmi seperti akun Instagram, Facebook, dan YouTube Muhammadiyah Kandangan serta Suara Pemuda turut menyiarkan dan mendokumentasikan jalannya acara agar syiar dakwah ini dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Ustadz Makmun Pitoyo, memohon agar seluruh jamaah diberikan kelapangan rezeki dan kemantapan hati untuk dapat menunaikan ibadah qurban pada tahun ini dengan keikhlasan yang sempurna. Selepas pengajian, ratusan jamaah membubarkan diri dengan tertib, membawa pulang ilmu dan semangat baru untuk menyambut Hari Raya Idul Adha dengan persiapan spiritual yang lebih matang.













