Opini

Yasinan ala Muhammadiyah.

436
×

Yasinan ala Muhammadiyah.

Sebarkan artikel ini

Yasinan, satu kata yang dalam benak sebagian besar umat Islam di Indonesia, diartikan sebagai tradisi keagamaan bagi sebagian umat Muslim di Indonesia yang melibatkan pembacaan Surat Yasin secara berjamaah, biasanya diiringi tahlil dan doa. Tradisi ini sering diadakan untuk mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal, memohon keselamatan, atau mempererat silaturahmi antarwarga.

Warga Muhammadiyah belum terlalu familiar menyelenggarakan acara yasinan tersebut. Bisa dibilang sangat sedikit yang menyelenggarakannya, paling tidak jika seandainya ada warga yang melaksanakannya, kemungkinan karena menghadiri undangan dari tetangga atau keluarga yang menyelenggarakannya. Dengan berbagai alasan yang berbeda beda. Mulai dari alasan “kelenturan dalam hidup bermasyarakat”, “ewuh pekewuh”, “menjalin silaturahmi dengan warga, dan sebagainya. Terutama warga Muhammadiyah yang hidup di tengah lingkungan yang mayoritas masih menyelenggarakan acara yasinan. Atau ikut yasinan sebagai strategi jangka panjang dalam berdakwah di masyarakat yang mayoritas bukan warga dan simpatisan Muhammadiyah.

Masih Ingat kisah Pak AR Fakhruddin yang diundang ke acara Yasinan ?
Yuk simak, sebagaimana dikutip oleh Web Suara Muhammadiyah.

Peristiwanya terjadi di Palembang, di Ulak Paceh. Ketika Pak AR ditugaskan di sana, ada seorang ulama yang sangat dikenal dan sangat dihormati di desa itu. Sayang ulama itu sangat benci dengan Muhammadiyah. Pada masa itu Muhammadiyah masih termasuk baru. Mungkin beliau itu sudah terpengaruh isu-isu buruk yang ditujukan kepada Muhammadiyah. Karena itu setiap orang Muhammadiyah selalu disikapi secara sinis. Apalagi Pak AR orang baru, datang dari Jawa (Yogyakarta) dan langsung bertugas di sekolah Muhammadiyah. Karena itu Pak AR juga selalu disikapi dengan acuh, dingin dan kadang-kadang masam. Kebetulan, kalau Pak AR mau mengajar selalu lewat di depan rumahnya.
Sebagai orang muda (pada waktu itu masih sekitar 18 tahun) kalau ulama itu ada di depan rumahnya selalu diberi salam. Akan tetapi salam itu selalu tidak dijawab dan disikapi dengan dingin dan acuh. Meskipun demikian, Pak AR tidak pernah bosan. Setiap ketemu selalu memberi salam. Lama-lama ulama itu mau menjawab walaupun tidak lengkap. Misalnya ketika diberi salam “Assalaamu’alaikum” beliau hanya menjawab “salam” atau “lam”. Dan Pak AR terus saja, setiap ketemu selalu memberi salam.

Akhirnya, pada suatu hari ulama itu menjawab salam dengan lengkap “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh” disertai senyum manis. Karena jawabannya lengkap Pak AR berhenti dan menjabat tangan ulama itu sambil tersenyum. Di luar dugaan pembicaraan menjadi panjang dan pada akhirnya ulama itu bertanya ; “Apa Guru ini orang Muhammadiyah” (Pak AR di Ulak Paceh biasa dipanggil guru). Jawab Pak AR ; “Ya, saya orang Muhammadiyah. Dulu belajar di Darul Ulum Muhammadiyah Yogya” “Jadi Guru ini benar-benar orang Muhammadiyah?” tanya ulama itu lagi sambil menatap dengan tajam. “Ya, saya orang Muhammadiyah” kata Pak AR. “Lho kok baik” kata ulama itu.
Pak AR tersenyum sambil bertanya ; “Apa orang Muhammadiyah itu jelek? Kata siapa ?” Jawab ulama itu ; “Ya kata orang-orang, Muhammadiyah itu Wahabi, suka mengubah agama dan suka mengkafirkan orang lain” kata ulama itu. “Lha itu kan kata orang, tetapi sekarang Angku sudah melihat sendiri, saya ini orang Muhammadiyah, bukan hanya kata orang-orang” kata Pak AR. “Iya-ya, kalau begitu orang-orang itu tidak benar” kata ulama itu. “Begitulah” kata Pak AR. “Kalau begitu, begini”; kata ulama itu lebih lanjut. ”Besuk malam Jum’at, Guru saya undang untuk yasinan. “Baik, insya Allah”, kata Pak AR, meskipun beliau merasa bingung juga bagaimana yasinan itu, karena Pak AR tidak pernah diajari yasinan.

Selama beberapa hari, menjelang malam Jum’at Pak AR berpikir keras bagaimana kalau tiba-tiba diminta memimpin yasinan, padahal belum pernah ikut yasinan dan tidak tahu bagimana cara yasinan itu.Namun akhirnya ketemu juga kiat, kalau diminta tampil dalam yasinan itu. Pada malam Jum’at yang dijanjikan berangkatlah Pak AR menghadiri undangan ulama itu. Dan benar juga dugaan beliau, bahwa beliau akan diminta tampil dalam yasinan itu.
Maka ketika kesempatan diberikan pada Pak AR, Pak AR bertanya apakah hadirin sudah sering ikut yasinan? Dijawab oleh mereka serempak : “Sudah Guru”. “Selama ini yasinannya seperti apa?” tanya Pak AR. “Ya, seperti biasa,” jawab mereka. “Jadi bapak-bapak sudah bisa semua, sudah hafal semua?” tanya Pak AR lagi. “Ya, sudah hafal” jawab mereka bersama-sama. “Bagaimana kalau sekarang kita yasinan model baru,
supaya bapak-bapak punya pengetahuan lebih luas dan punya pengalaman lain? Setuju ?” tanya Pak AR. “Setuju” jawab mereka serempak.

Kemudian kata Pak AR ; ”Sekarang kita baca Surat Yasin satu ayat demi satu ayat”. Lalu dibacalah ayat pertama, kemudian diminta salah seorang mengartikan. Kalau tidak bisa Pak AR membantu. Setelah selesai diartikan, kemudian oleh Pak AR dijelaskan apa itu Surat Yasin yang sering dibaca itu, kemudian arti dan maksud ayat-ayat itu. Meskipun malam itu hanya memperoleh dua tiga ayat rupanya hadirin cukup puas. Bahkan ada permintaan dapat dilanjutkan pada saat yasinan yang akan datang. Kata Pak AR. “Kalau saya, sebagai orang muda, saya terserah saja pada hadirin sekalian. Tetapi yang paling penting tergantung pada Al Mukarom Angku Ulama, orang tua kita itu”.

Di luar dugaan, ulama itu menyetujuinya. Meskipun demikian Pak AR tidak serta merta minta mengisi setiap malam Jum’at, tetapi supaya berselang-seling. Malam Jum’at, malam gasal yasinan model lama yang mimpin Angku Ulama, dan pada malam Jum’at malam genap yasinan model baru yang ngisi Pak AR. Lama-lama Angku Ulama itu menyerahkan pimpinan yasinan itu kepada Pak AR dan jadilah yasinan itu menjadi pengajian tafsir Al Qur’an. Begitulah, rupanya dulu Pak AR juga sudah melaksanakan dakwah kultural.

Dari sepenggal kisah Pak AR Fakhruddin tadi, bisa kita ambil pembelajaran, bahwa Muhammadiyah juga ‘Yasinan’, tapi pada umumnya tidak dari Yasin sampai kemudian ayat yang terakhir. Kadang-kadang Yasinan itu cukup satu ayat itu sudah dianggap Yasinan karena satu ayat itu tetap bagian dari Surat Yasin. Jadi tidak bisa dibilang kalau Warga Muhammadiyah itu tidak Yasinan, apalagi anti terhadap surat Yasin. Hanya saja cara Yasinannya berbeda dari pengetahuan mainstrem masyarakat Islam di Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan berdakwah, ada Muballigh dan dai yang menggunakan surat Yasin sebagai bahan pengajiannya, termasuk penulis sendiri. Contohnya adalah ketika menjelaskan tentang konsep Wujudul Hilal yang dipedomani oleh Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan Hijriyah. Ternyata salah satunya didasarkan pada surat Yasin ayat 38-40

وَالشَّمۡسُ تَجۡرِىۡ لِمُسۡتَقَرٍّ لَّهَا ؕ ذٰلِكَ تَقۡدِيۡرُ الۡعَزِيۡزِ الۡعَلِيۡمِؕ‏ ٣٨
dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.

وَالۡقَمَرَ قَدَّرۡنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالۡعُرۡجُوۡنِ الۡقَدِيۡمِ‏ ٣٩
Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua.

لَا الشَّمۡسُ يَنۡۢبَغِىۡ لَهَاۤ اَنۡ تُدۡرِكَ الۡقَمَرَ وَلَا الَّيۡلُ سَابِقُ النَّهَارِؕ وَكُلٌّ فِىۡ فَلَكٍ يَّسۡبَحُوۡنَ‏ ٤٠
Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.

Kriteria Wujudul Hilal yang pernah digunakan oleh Muhammadiyah dirumuskan berdasarkan petunjuk-petunjuk atau isyarat-isyarat al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. serta kaidah-kaidah Ilmu Falak (Astronomi).

Ayat 39 dan 40 Surat Yasin memberi isyarat tentang:
1) Ijtimak Bulan dan Matahari;
2) pergantian hari dimulai pada saat terbenam Matahari; dan
3) ufuk sebagai batas untuk menentukan posisi atau kedudukan Bulan.

Posisi Bulan belum terbenam pada saat Matahari terbenam merupakan abstraksi dari perintah rukyat dan istikmal dalam hadis Nabi saw. Kadar minimal prinsip yang dapat diabstraksikan dari perintah hadis tersebut adalah keberadaan Bulan di atas ufuk sebagai tanda awal bulan baru.

Maka bisa dibilang, kadang Muhammadiyah lebih memahami ayat 38-40 surat Yasin tersebut, dan sudah mengamalkan isi yang ada di dalamnya surat tersebut sebagai landasan menjalankan Wujudul Hilal pada penentuan awal bulan Hijriyah. Bahkan konsep Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) yang dipakai Muhammadiyah saat ini, juga mendasarkan pada Surat Yasin 38-40 tersebut. Bahkan surat tersebut menjadi salah satu dalil penggunaan Metode Hisab penentuan awal bulan Hijriyah.
Wallahu a’lam.
(Bersambung, insya Allah)

Rofi’i, S.Pd.
Sekretaris PCM Ngadirejo, Penyusun Jadwal Shalat & Trainer Pelatihan Hisab MTT PDM Temanggung

Komentar